Showing posts with label Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Motivasi. Show all posts

3.31.2009

Melayani dengan Tulus

Maaf saya kali ini memposting motivasi lagi. Dan lagi-lagi tentang tukang kayu. Begini ceritanya, Suatu ketika di zaman dulu hidup seorang tukang kayu yang ulet dan handal merasa bosan dalam bekerja. Di usianya yang sebenarnya masih produktif, dia ingin menikmati dengan tenang sisa-sisa hidupnya. Sehingga dia meminta kepada juragannya untuk meminta pensiun dini.
Juragannya tentu sangat berat untuk melepaskan salah satu pegawai terbaiknya. "Baiklah kalo begitu, dengan memohon keikhlasan dan kemauanmu, aku mohon buatkan aku satu buah rumah kualitas terbaik dan pilihlah pekerja yang terbaik pula. Semahal dan semewah apapun, si pemesan akan membayarnya".
Si tukang kayu merasa dongkol. Mentang-mentang dia adalah masterpiece perusahaan, dia dieksploitasi. Dan masih dimintai order ketika meminta pensiun. Dan esok harinya dia mulai untuk membuat rumah tersebut.
Dia membuatnya dengan sekenanya saja. Dan terkesan untuk cepat mengakhirinya untuk cepat-cepat pensiun. Serta dia tidak memilih bahan kayu kualitas terbaik karena dirasa terlalu lama dalam mencarinya. Ketika rumah itu jadi, dia segera membersihkannya dan memberikan kuncinya pada juragannya. 
"Sebenarnya saya berat untuk melepasmu. Ini uang bayaran pekerjaan terakhirmu itu. Dan rumah kualitas terbaik yang kamu buat itu adalah hadiah pensiun yang saya berikan kepadamu. Saya ikhlas memberimu karena kamu juga bekerja dengan tulus"
Si Tukang kayu akhirnya kecewa seberat-beratnya karena dia tidak bekerja dengan baik ketika membuat rumah terakhirnya tersebut. 
Cerita di atas tentu membawa banyak hikmah. Bahwa dalam bekerja dan berbuat sesuatu hendaknya kita melayani dengan tulus. Tidak semua kerja dan usaha kita diorientasikan pada uang. Namun perasaan tulus dan ikhlas ketika melayani adalah kenikmatan tersendiri. 
Ketika saya mendengar cerita ini dari guru saya, saya teringat bahwa saya bekerja dengan kurang tulus.

Read more...

3.22.2009

Tukang Kayu

Beberapa saat yang lalu ketika saya mengunjungi suatu book fair, saya membeli sebuah buku yang cukup bagus. Setelah saya baca-baca sebentar, isinya sarat dengan motivasi. Begini ceritanya. 
Suatu ketika datanglah seseorang kepada seorang juragan kayu. Orang tadi ingin menjadi seorang penebang kayu. Setelah itu dicapai kesepakatan antara usaha dan keuntungan. Oleh juragan kayu, orang itu dipinjami sebuah kapak. Jadilah dia seorang penebang kayu yang bekerja untuk juragannya.
Pada hari pertama kerja, dia bekerja dengan giat dan tekun sehingga hasilnya sangat bagus untuk seorang pemula. Dia mampu menebang 20 batang pohon. Sang juragan menjadi terkesan kepada karyawan barunya dan berjanji memberi gaji lebih apabila si penebang bekerja seperti hari itu.
Namun usahanya belum membuahkan hasil yang maksimal. Di hari kedua dia hanya mampu menebang 18 pohon, di hari ketiga dia hanya mampu menebang 16 pohon. Pada hari ketujuh, dia hanya mampu menebang 6 pohon. Hasil itu tentu membuat juragan kecewa. 
Cerita di atas mungkin sedikit aneh mengapa hasil kerjanya terus berkurang. Yang menjadikan hasil kerjanya berkurang adalah dia ”hanya bekerja keras”. Dia melupakan satu hal yang penting. Yaitu mengasah kapaknya.
Cerita di atas dapat kita ibaratkan dalam kehidupan kita. Di dunia kerja, kita tidak hanya dituntut untuk terus bekerja dengan keras saja. Namun kita tentunya harus bekerja dengan cerdas seperti mengasah kapak tadi. Contohnya dengan mengikuti seminar, training, dan yang paling ringan adalah dengan banyak membaca buku. Dengan demikian kerja kita akan menjadi lebih maksimal dan energi yang kita curahkan untuk bekerja semakin efisien. 
Selain itu juga kepada para pelajar, juga perlu untuk belajar cara hidup, carabelajar efisien dan lain-lain sehingga mampu memaksimalkan potensi yang ada. 

Read more...

2.21.2009

Sugesti

Sugesti memang sangat menentukan di dunia ini. Seperti seperti dukun jadi-jadian dari Jombang yang bernama Ponari yang dikabarkan bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit dengan meminum air yang dicelupi batu miliknya. Bodohnya lagi, para pasien tersebut bukan hanya raganya yang sakit, tetapi jiwa dan akal sehatnya ikut sakit. Seperti dengan mempercayai keajaiban milik Ponari.
Percaya atau tidak, itu lebih disebabkan oleh sugesti. Saya pun meyakini bahwa keajaiban ponari tersebut adalah sugesti. Sugesti adalah suatu keyakinan baik dari diri sendiri ataupun orang lain yang mampu mempengaruhi saraf bawah sadar kita. Seperti Ponari yang memberi sugesti bahwa yang meminum airnya akan sembuh, tentu pasiennya gampang percaya dan tersugesti untuk sembuh.

Saya pun pernah melakukan sugesti pada teman-teman saya. Ketika itu kelas saya mengikuti turnamen sepak bola di sekolah. Demi menambah percaya diri teman-teman saya, saya membawa sebotol air yang aku isi dengan air yang dimasak ibuku dari rumah. Lalu aku beri sedikit sirup jahe. Setelah itu kubagi pada teman-temanku dan aku berkata itu membawa banyak kekuatan dan stamina. Setelah itu, teman-temanku mainnya penuh tenaga dan yakin dari khasiat ”jamu” yang aku bawa. Dalam hati aku tertawa bahwa itu hanya akal-akalan dan sugesti dariku.
Aku pernah mengikuti training, yang isinya bahwa sugesti itu mudah dilakukan, yaitu dengan membayangkan keberhasilan kita di masa yang akan datang. Selain itu mensugesti bahwa kita harus berhasil, kita harus menjadi nomor satu dan harus berusaha dengan sekeras mungkin. 
Agar sugesti itu benar-benar masuk dalam saraf bawah sadar kita, hendaknya kita mensugesti diri kita sebelum tidur dan mengulanginya lagi setelah bangun tidur. Insya Allah akan menambah semangat kita dalam hidup. Selamat mencoba dan semoga berhasil!

Read more...

2.14.2009

Motivasi dari Pesulap

Pernah, Seorang pesulap kelas dunia yang lihai dalam aksi meloloskan diri ditantang untuk meloloskan dirinya dari sebuah gedung. Gedung milik bank swasta di Jakarta itu memang tak terlalu mewah. Terlebih jika dibandingkan dengan nama beken pesulap yang sudah membahana di bumi. Tentu saja, sang pesulap itu pernah meloloskan diri dari rantai besi, peti yang dikubur, rumah yang terbakar, dan lain-lain. 
Kali ini, dia sedang tur sulap di Indonesia dan ditantang oleh pemerintah setempat untuk memamerkan aksinya. Dia pun ditantang untuk meloloskan diri dari puncak gedung berlantai 15. Disana dia dirantai dan digembok. Dia diberi waktu 5 menit untuk meloloskan diri dan turun ke lantai dasar.

Ketika pertunjukan dimulai, dia dengan leluasa membuka kunci gembok dan menguraikan rantainya. Sekarang dia tinggal keluar dari ruang tersebut, turun ke lantai dasar dan menyapa penggemarnya. Dia mulai mengeluarkan peralatan-peralatan yang disembunyikannya untuk membuka kunci pintu tersebut. Namun semua peralatan tak bisa digunakan untuk membuka kunci pintu itu. Dia mulai kehabisan peralatan dan mulai kehabisan akal juga. Terbayang olehnya bahwa dia akan dicerca dan dihina karena gagal mempertunjukkan aksi yang memukau. Dia merasa telah gagal. Ketika dia melihat arlojinya, waktu sudah berjalan empat menit. Merasa tak ada harapan, dia merasa marah dan menendang pintu kuat-kuat. Lantas, pintu itu langsung terbuka dan dia dapat keluar dari ruangan itu. Sebenarnya bukan pintunya yang terkunci. Namun akal dari pesulap itulah yang terkunci. 
Tentu ada motivasi di balik cerita tadi. Sebenarnya bukan pintunya yang terkunci. Namun akal dari pesulap itulah yang terkunci. Tentu itu menjadi pelajaran bagi kita. Terkadang kita mendapat suatu problem atau hambatan yang kita rasa cukup berat. Namun banyak dari kita yang menganggap bahwa problem dan hambatan itulah yang membuat langkah kita terhenti. 
Sebenarnya akal kitalah yang mampet sehingga tak menemukan jalan keluar. Memang kodrat manusia akan frustasi jika menghadapi suatu masalah. Namun bukan berarti problem dan tantangan itu menjadi suatu penyumbat akal kita. Seharusnya dengan suatu masalah, muncullah motivasi dan membuat diri kita menjadi lebih kreatif

Read more...

2.07.2009

Tukang Batu

Alkisah, hiduplah seorang pencari batu yang hidup di lereng gunung. Bertahun-tahun bekerja, tukang batu tersebut tak kunjung makmur nasibnya. Entah kenapa, dia tetap rajin bekerja dan setia mencari batu di sungai. Suatu ketika, di depan rumahnya dilewati raja yang berkuasa. Dalam hati tukang batu tersebut, dia berkata ”Ah,... sungguh enak menjadi raja. Selalu dielu-elukan rakyatnya dan hidup penuh nikmat!”. Kebetulan ”dewa” mendengar keluh kesahnya. Tukang batu itupun berubah menjadi raja. 
Dengan bangga dan gembira, ”sang raja” berjalan-jalan mengelilingi desa pinggiran. Namun ada satu hal yang menghalanginya, yaitu matahari. Seketika itu pula dia ingin menjadi matahari. Lagi-lagi keinginannya terkabul dan dia menjadi matahari. Dia dengan senyum merekah melihat seluruh dunia. Dan matahari serasa menjadi raja dari seluruh raja. Namun senyumnya memudar ketika pandangannya tertutupi oleh awan. Mataharipun mendengar manusia mengutuk matahari karena menyebabkan kekeringan dan memohon agar awan menurunkan hujan. Mataharipun ingin menjadi awan dan akhirnya dia berubah menjadi awan.

Dengan riang, awan menurunkan hujan dan disambut sorak sorai manusia yang menunggu datangnya hujan. Belum habis gembira si awan, datang angin yang membawanya ke lautan lepas. Si awan iri kepada angin dan ingin menjadi angin. ”dewa” kembali mengabulkan permintaannya dan dia menjadi angin. Ketika menjadi angin dia merasa tak terkalahkan dan mampu terbang kesana-kemari dengan cepat. Namun badannya terasa tergoncang karena menabrak sesuatu. Setelah dia lihat, dia menabrak gunung yang perkasa. Dia ingin menjadi gunung dan ”dewa”pun mengabulkannya.
Setelah menjadi gunung dan beberapa saat tak ada gangguan, tubuhnya merasa sakit dan mendengar suara yang tak asing lagi didengarnya. ”tok-tok-tok” yaitu suara tukang batu yang memukuli tubuh si gunung tadi. 
Akhirnya si gunung tadi ingin menjadi tukang batu dan akhirnya dikabulkan oleh ”dewa”. Dan akhirnya tukang batu itupun kembali menjadi tukang batu dan hidup seperti sediakala. 
Cerita di atas memang cerita fiksi. Namun tentu cerita itu mengandung hikmah penuh motivasi. Seperti kira tak bisa untuk mendapatkan sesuatu dengan mudah. Kita perlu suatu usaha yang keras agar hidup dengan enak pula. Kedua, hendaknya kita bersyukur dengan apa yang sudah kita miliki. Memang sudah kodrat manusia diciptakan untuk sulit bersyukur. Namun hendaknya kita terlalu ambisius yang tidak mungkin kita kejar. 
Keep spirit!

Read more...

1.30.2009

Si Indonesia dan Unta

Aku mendapat cerita ini dari teman sekelasku. Dia menganggapnya sebuah cerita humor, namun saya menganggapnya adalah sebuah motivasi untuk dibagi. Begini ceritanya. Seorang warga Indonesia yang sudah bolak-balik Jakarta-Mekkah untuk menunaikan haji, merasa bosan untuk ke Arab Saudi lagi. Tapi karena duit yang melimpah, dia memutuskan ke Arab untuk wisata setelah menunaikan ibadah haji (memang tidak logis).
Sesampai Arab sana, dia menemukan jasa berkeliling pinggiran kota dengan menaiki unta. Merasa tertarik, dia memutuskan untuk mencobanya. Setelah tawar-menawar maka jatuhlah harga pasnya. Si Indonesia itupun berkata ” Bagaimana cara menjalankan unta ini, Pak?” kata si Indonesia dengan bahasa Arab yang kurang lancar tentunya.
”Untuk menjalankannya, cukup membaca ’alhamdulillah’ dan untuk menghentikannya, dengan membaca ’bismillah’! Untuk belok kanan-kiri, cukup gunakan tali kekang kemudi. Gampang kan?!” Setelah itu, orang Indonesia tersebut dibiarkan mengendarai unta itu sendirian.
Tak lupa dia membaca ’alhamdulillah’ untuk membuat unta itu berjalan. Sesaat setelah itu, dia bisa mengendalikan arah unta yang dikendarainya. Namun, unta itu berjalan semakin cepat. Semakin cepat hingga bisa dikatakan unta itu berlari. Si Indonesia tadi mulai panik mengendarai unta tersebut. Puncak kepanikan muncul ketika jurang terlihat di depannya.
Untanya semakin liar tak terkendali dan jurang serasa siap menerimanya. Kecepatan unta tadi sudah di atas normal dan sulit diterima nalar. Kekang kemudi ditariknya kuat-kuat untuk menghentikan unta tersebut. Namun itu malah membuat unta semakin beringas. Si Indonesia itu berpikiran untuk meloncat dari unta namun pasti akan memunculkan luka yang parah karena unta itu terlalu kencang melaju.
Di tengah kepasrahan kepada Allah, si Indonesia tadi teringat cara pemilik unta dalam menghentikan untanya. Yaitu membaca ’bismillah’. Tanpa pikir panjang lagi dia berucap ”Bismillah! Berhentilah kamu, Unta!”. Mak ckiit! Unta itu akhirnya bisa berhenti seketika. Namun seketika itu juga, Si Indonesia berkata ”alhamdulillah, aku akhirnya selamat....” Unta itu langsung berlari dan masuk jurang. Plung!
Entah kita anggap apa cerita di atas tadi, namun cukup memberi kita pelajaran bahwa janganlah kita lengah dan terlena sedikitpun dengan nikmat yang telah berikan. Juga dalam dunia motivasi, janganlah kita menyia-nyiakan suatu kesempatan yang datang pada kita.
Seumpama orang tadi berpikir jernih, tentu dia akan turun dari untanya terlebih dahulu baru mengucapkan alhamdulillah atau bersyukur. Namun cerita ini juga membawa dampak baik, yaitu bersyukurlah setiap saat. Tapi tentu kita harus memperhatikan situasi dan kondisi tentunya.
Semangat baru!!!!!!!

Read more...

12.30.2008

Hikmah dari Musa

Tentu kita percaya bahwa memberi kail, jauh lebih mendidik dibandingkan dengan memberi ikan. Ungkapan"Berikan kail, bukan ikan!" Itu jika kita berada dalam posisi sebagai 'sang pemberi'. Seandainya anda diposisi 'yang diberi', tentu pilihan kita menjadi bias dan sedikit gengsi. Saya justru ingin anda menawari opsi lain: diantara sepotong roti dan sepercik api. Mana yang akan anda pilih: roti atau api?

Saya tidak akan mencampuri keputusan anda. Namun, sebelum saya membahas lebih lanjut, tentukan pilihan anda: roti atau api? Itu penting bagi anda, karena dalam sejarah umat manusia; ada seorang Nabi besar yang "berurusan dengan roti dan api". Anda ingat siapa orang itu? Ya, dia adalah Nabi Musa as. Di zaman ketika dia dilahirkan, pembaca bintang meramalkan bahwa Firaun akan dikalahkan oleh bayi laki-laki yang dilahirkan di Bani Israil. Oleh karena itu, Firaun memerintahkan untuk membunuh semua bayi lelaki yang lahir. Sedangkan istri Firaun, menemukan bayi yang tampan dan segera menyembunyikannya karena tertarik dan agar tak dibunuh Firaun.

Tentu ketika melihat bayi itu,Firaun memaksa untuk membunuhnya. tapi sang ratu tentu keberatan. Sehingga, akhirnya mereka bersepakat untuk melakukan ujian. Dihadapan sang bayi disediakan dua pilihan; roti dan api (terdengar aneh memang). Jika bayi itu memilih api, maka dia akan diijinkan untuk hidup. Tetapi, jika dia memilih roti, maka dia harus mati! Nah, sekarang perhatikan kembali pilihan anda tadi....

Jan-jane, Ada apa diantara roti dan api? Begini. Roti, adalah barang dengan proses panjnga. Untuk mendapatkan sepotong roti kita harus membutuhkan sekurang-kurangnya seribu orang yang tak kelihatan. Seribu orang? Ada petani yang menanam gandum. Buruh yang menyiangi rumput. Kuli angkut. Sopir truk. Penjual bensin. Pembuat oven. Pedagang loyang. Pertenak telur ayam. Karyawan pabrikgula, penjual eceran, de-el-el . mereka adalah orang yang berperan dalam pembuatan roti hingga ke mulut anda.

Ini adalah bukti bahwa untuk sepotong roti yang kita nikmati, kita bergantung pada ribuan orang. Tetapi, mengapa Allah memberi pertanda melalui roti dan api? Roti, tiada lain adalah isyarat kenikmatan. Sehingga, Musa yang masih bayi itu mengajarkan kepada kita sebuah moral bahwa semua kenikmatan dan pencapaian hidup yang kita dapatkan – tidak ada yang terlepas dari kontribusi orang lain. Allah melalui bayi Musa mengajarkan itu!

Roti juga adalah simbol dari kemakmuran dan kekayaan. mari kita perhatikan apakah ada satu rupiah saja dari harta yang kita miliki itu diperoleh tanpa peran orang lain? Pasti tidak ada. Harta kita, semuanya didapatkan atas jasa dan bantuan serta kontribusi orang lain. Oleh karena itu, orang kaya yang sombong tak ubahnya seperti manusia pandir yang tidak menuruti ajaran Rasulullah. Roti adalah jabatan. Bisakah ktia mendapatkan jabatan itu tanpa dukungan dan bantuan serta kontribusi orang lain? Jika anda pejabat perusahaan. Supervisor, Manager, Direktur, atau CEO sekalipun. Bisakah anda mendapatkan jabatan itu tanpa orang lain? Tunjukkan kepada dunia satu orang saja manusia dimuka bumi ini yang memiliki jabatan tinggi dengan hasil yang diusahakannya sendiri (jika itu ada).

Api, adalah salah satu energi murni di alam. Artinya, alam menyediakan api tanpa campur tangan manusia sekalipun. Mengapa Musai yang masih bayi itu memilih api? Ternyata, itu merupakan makna simbolik penuh arti. Seolah melalui Sang Nabi, Allah hendak menyampaikan sebuah wahyu. Seperti yang dirangkum didalam dua aspek berikut ini:

Pertama, mari kita hindari roti. Perhatikan, dijaman ini; orang-orang sibuk berebut sepotong roti. Berlomba rebutan harta sabetan. bersaing meraih simpati untuk mendapatkan kekuasaan. Sikut-sikutan untuk memperoleh jabatan di perusahaan. Sikut kiri. Tonjok kanan. Injak bawah, tendang depan, sundul atas. Mari hindari "roti" diatas!

Kedua, memilih api. Milikilah unsur api yang murni. Karena api adalah simbol dari daya hidup yang membara dan semangat mengelora. Biarkan api itu memberi sinar bagi dirimu. . Ketika memilih api, Sekarang, perhatikan kembali pilihan anda tadi. Jika anda memilih roti, anda benar. Dengan roti itu anda akan menjadi kenyang. Yang perlu kita lakukan adalah; hendaknya anda selalu ingat bahwa ada ribuan orang yang tidak anda kenal telah memberikan kontribusinya, kepada sepotong roti yang anda miliki. Kepada kekayaan anda. Kepada kedudukan anda. Dan berbuat baiklah dengan roti yang anda miliki itu. Janganlah kita mengkhianatinya dengan bertindak sewenang-wenang.

Jika anda memilih api. Tetapkanlah hati anda dengan pilihan itu. Karena, meskipun anda tidak kekenyangan; namun anda mempunyai cahaya yang bisa menjadi penerang dan punya semangat menggelora. Sehingga, terang anda; bisa menjadi petunjuk bagi para pemilik roti, dan pengembara serta para pencari cahaya. Karena, ketika anda memilih api; sesungguhnya anda telah dipilih Allah, untuk menjadi pembawa terang. Nyaris seperti Allah telah memilih Musa, untuk membawa umatnya menuju pencerahan.

Read more...

12.19.2008

7500 Rupiah

Syafi’i, seorang manajer cabang suatu bank syariah di Jakarta menatap angka-angka di komputernya dengan cermat. Sejak rekening donasi untuk korban banjir di Jakarta dibuka Desember 2005 lalu, sumbangan berdatangan dari berbagai kalangan. Televisi berulangkali menayangkan nasib naas para korban yang tinggal di tempat pengungsian dalam kondisi seadanya, rumah-rumah tersapu arus, orang-orang yang kesusahan, serta tangisan para anak-anak. Sebagai orang yang ditunjuk sebagai penanggung jawab pengumpulan dana, Syafi’i rutin memeriksa dana yang masuk di rekening.
Transferan donasi masuk bervariasi jumlahnya. Dari 30 juta, 1 juta, 800 ribu, 10 juta, 300, hingga 100 ribu. Syafi’i terus mengecek uang yang masuk, hingga tiba-tiba matanya terhenyak pada angka Rp 7500. Tujuh ribu lima ratus rupiah? Ia penasaran dan mulai membandingkan dengan jumlah lainnya. Tak ada donasi lain yang masuk sekecil itu. Satu kardus mie instan saja tak cukup.
Diamatinya kembali angka Rp 7500. Uang itu dikirim atas nama Hamzah beralamat Malang, melalui transfer bank daerah setempat. Syafi’i ingin menuntaskan rasa ingin tahunya. Kenapa donatur tersebut hanya menyumbang Rp7500, tidak kurang dan tidak lebih. Ia putuskan menelepon bank daerah pengirim uang tersebut.

Hamzah, siswa kelas 3 SD sedang menonton kartun anak-anak saat breaking news seputar banjir Jakarta disiarkan. Tayangan itu menampilkan anak-anak seusianya mengungsi di kelurahan dan masjid, ibu yang digendong oleh para relawan ke perahu karet, penduduk yang memilih bertahan di atap rumah, bapak-bapak yang menjaga hartanya dari penjarah.
Mata Hamzah berkaca-kaca dan terharu menatap gambar di layar kaca tersebut. Saat breaking news diakhiri dengan informasi ‘bagi anda yang ingin membantu korban banjir dapat menyalurkannya melalui melalui rekening no. XX, Bank XX’, sebuah ide terbetik dipikirannya.
Hamzah bergegas ke kamar, menyodok-nyodok celengan yang ia simpan di bawah kolong tempat tidur. Setelah ketemu, ia bobol celengan tersebut. Jumlah tabungannya Rp 12.500. Ia kemudian pamit pada mamanya untuk pergi sebentar.
Keluar dari halaman rumah, Hamzah menyeberangi jalan raya. Berlari masuk ke sebuah bank yang tak jauh dari rumahnya.
“Tante, aku mau ikut nyumbang buat korban banjir di Jakarta,” ujar Hamzah di depan kasir. Ia serahkan seluruh tabungannya serta alamat pengiriman uang.
“Adik, kalau mau transfer ada biayanya. Lima ribu rupiah,” kata kasir menjelaskan.
“Nggak bisa semuanya Tante?” tanya Hamzah.
“Nggak, cuma bisa ditransfer Rp 7.500,” jawab kasir.
“Ya udah deh, Tante, kirimin aja. Makasih Tante,” ujar Hamzah meninggalkan bank.
Syafi’i mendengarkan kisah Hamzah dari kasir bank lokal tersebut dengan takjub. Ia ingin berbicara langsung dengan Hamzah, sang donatur cilik berjiwa sosial. Dari bank tersebut, Syafi’i mendapatkan nomor telepon rumah Hamzah.
Syafi’i memutar nomor telepon yang dicatatnya.
“Tutttttt......tutttttt”. Dalam dua kali nada panjang, telepon itu diangkat oleh seseorang di rumah Hamzah. “Assalamualaikum. Saya Syafi’i dari bank XX Jakarta,” Syafi’i memperkenalkan diri. “Bank kami menerima donasi untuk korban banjir Jakarta sebesar Rp 7500 atas nama Hamzah. Bisa bicara dengan Hamzah?”
“Bapak tidak bisa bertemu Hamzah,” suara serak bercampur tangis menjawab. Saat bersamaan, lelaki penerima telepon itu, ayah Hamzah, sedang membopong mayat anaknya yang bersimbah darah untuk dimandikan. Hamzah ditabrak saat melintasi jalan raya menuju rumahnya, sesaat setelah keluar dari bank.
Syafi’i mendengarkan semuanya dengan pilu. Tujuh ribu lima ratus rupiah bukanlah hitungan matematis yang menunjukkan besar atau kecilnya jumlah uang. Jumlah itu mengajarkan empati seorang anak kecil terhadap orang lain yang ditimpa musibah. Menggugah dan mengilik hati putihnya untuk berbuat sesuatu tanpa peduli ukuran besar atau kecil. Yang terpenting membantu dengan ikhlas.
Tujuh ribu lima ratus rupiah membawa Hamzah bertemu langsung dengan Khaliq-nya.
*Cerita nyata ini dikisahkan oleh seorang guru saya

Read more...

12.15.2008

Gajah

Aku mendapat ide tulisan ini 3 tahun yang lalu ketika aku mengunjungi kebun binatang Kota Solo, yaitu Jurug. Terlepas sekarang Jurug terkena masalah yang rumit, saya takkan membahasnya disini.
Saat itu aku melihat gajah yang cukup besar. Sudah bisa dikatakan dewasa. Aku melihat gajah itu cukup kuat walaupun pergerakannya sangat lemah. Setelah melihat makanannya, tahinya, dan posturnya, aku tertarik pada tali kekang gajah tersebut.
Tali kekang gajah sangat kecil diameternya. Diameternya seperti tali pramuka walaupun bahannya berbeda. Yang semakin membuatku heran, teli tersebut ditambatkan pada sebuah pohon kecil setinggi 2,5 meter. Yang membuatku tak habis pikir, mengapa gajah itu tidak menyentakkan talinya dan bisa terlepas dari kekangnya.

Padahal bila kuperkirakan, gajah itu cukup kuat untuk lepas dari pohonnya. Pohonnya kecil, talinya tipis serta gajahnya kuat.
Setelah aku pikir-pikir, mungkin gajah itu sejak kecil sudah ditali seperti itu. Memang dulu waktu kecil sempat meronta-ronta ketika ditali pada pohon namun tidak kuat karena badannya kecil. Setelah mencoba berkali-kali dan selalu gagal, dia tidak mau mencoba lagi sampai dewasa, walaupun pada saat dewasa dia kuat melakukannya. Dia tak mau mengulanginya ketika dewasa karena menganggap perbuatannya akan gagal lagi.

Manusia dibandingkan dengan gajah? Jangan dibandingkan karena tentu unggul manusia. Gajah seperti cuplikan tadi mengalami suatu kegagalan dan mendapatkan sebuah trauma. Karena pada saat kecil pernah mencobanya namun gagal. Akibat trauma itu dia tak mau mengulanginya sampai kapanpun.Gajah dewasa itu masih berpikir dia akan gagal menyentakkan tali berdasarkan pengalaman di waktu kecil.
Di kehidupan seperti ini, masih ditemukan manusia seperti gajah diatas. Kuat melakukan sesuatu namun pernah gagal dan takut mengulanginya. Padahal seperti yang kita ketahui, bahwa kegagalan adalah awal kesuksesan, kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda, kegagalan adalah pemicu kesuksesan dan lain-lain.
Kita takut mencoba sesuatu karena kita pernah mengalami kegagalan. Kita takut untuk mengalami kegagalan lagi. Dan kita pesimis akan tindakan di masa depan kita
Janganlah kita terpancang pada kegagalan masa lalu kita. Namun jadikan masa lalu yang gagal menjadi masa depan yang bersinar. OK?

Read more...

12.13.2008

Ciuman Misterius

Dalam sebuah kereta jurusan Bandung-Jakarta, seorang manajer tampan bersama staf mudanya datang menempati tempat duduk yang tersisa. Kebetulan tempat duduk yang tersisa adalah di depan seorang gadis cantik dan neneknya. (posisi tempat duduknya saling berhadapan). Tiba-tiba lampu dalam gebong mati sehingga malam terlihat lebih pekat. Di tengah pekat nan sunyi itu terdengar suara cukup kentara, yakni sebuah ciuman dan tamparan.
Orang-orang tersebut menginterpretasikan kejadian tersebut sesuai pemikiran masing-masing. “Saya tersanjung manajer tampan ini mencium saya, namun saya malu karena nenek menamparnya” pikir gadis cantik tersebut. Nenek gadis itu berpikir, “lancang sekali anak muda ini, namun saya bangga karena cucuku memiliki keberanian untuk menamparnya”
Sedangkan manajer berpikir, “staf saya sungguh berani untuk mencium gadis yang tak dikenalnya. Namun kenapa gadis itu keliru menampar saya?”. Hanya staf muda yang tahu kejadian pastinya. Dia mencium gadis cantik itu dan seketika menampar manajernya.

Dalam memanfaatkan kesempatan, manusia dibagi menjadi dua, yaitu opportunist dan adventurer. Seorang oportunis adalah penakut dan hanya menunggu kesempatan yang tepat untuk bertindak. Seorang oportunis adalah orang penakut dan suka mengorbankan oranglain untuk mencapai popularitas diri. Suatu contoh opportunist sejati adalah ketika dia melihat tabrakan di jalan, opportunist tersebut melihat kesempatan dan menjarah semua barang milik korban tabrakan.
Sedangkan adventurer adalah bukan hanya orang yang menunggu kesempatan yang tepat. Namun dia yang menjadikan keadaan menjadi kesempatan yang tepat. Adventurer cenderung inovatif dan risk taker. Walaupun bersifat risk taker, dia enggan mengorbankan orang lain. Tipe inilah yang dibutuhkan di zaman teknologi dan informasi ini.
Dah dulu. Ngantuk aku. Salam untuk keluarga yo!

Read more...

11.04.2008

Energi Positif vs. Energi Negatif

Setiap manusia tentu mempunyai motif dan tujuan tertentu ketika melakukan sesuatu. Motif dan tujuan inilah yang akan kita sebut sebagai sebuah energi. Energi yang menggerakan pikiran seseorang dapat dibagi menjadi dua. Yaitu energi positif dan energi negatif. Energi positif pasti akan menuntun manusia untuk berpikir jernih, menggunakan nurani dan mempunyai spirit yang kuat. Energi negatif tentu saja adalah energi yang didasari oleh amarah, nafsu, dan kesombongan.
Dua energi ini dimiliki setiap orang. Baik tua-muda, kaya-miskin, timur-barat, besar-kecil dsb. Tak hanya Indonesia yang mengalami episode negatif tahun 60-an ketika paham komunis masuk ke Indonesia, akibatnya buku-buku dibakar, lawan politik dipenjarakan bahkan di ancam bunuh dsb.
Bangsa yang besar tentu pernah punya masa ketika energi negatif menguasai mereka. Contohnya Amerika, negeri superpower itu pernah pecah perang saudara Utara-Selatan dan Federal-Konfederasi. Yang menyebabkan banyak kerugian dan akhirnya dimenangkan oleh Utara yang memunculkan Abraham Lincoln.
Jepang, Italia dan Jerman juga dikuasai energi negative mereka berupa ambisi fasisme yang bertujuan menguasai dunia walaupun ambisi fasisme itulah yang akan menjatuhkan mereka. Siapa yang mengatur kedua energi itu?
Jawabannya adalah kita sendiri! Kita sendiri yang mengatur energi itu. Energi itu muncul dari suatu buah keterpaduan antara pikiran, nurani dan spirit kita. Sehingga perbuatan kita, kitalah yang mengendalikannya.
Setiap manusia tentu juga sadar bahwa mereka punya dua energi itu, namun kadangkalalah energi negative yang memenangi pertempuran sehingga tingkah laku manusia menjadi penuh nafsu, amarah, dan kesombongan,
Seperti yang telah difirmankan oleh Allah pada Surah Asy-Syams ayat 8 yang artinya; “Maka Dia (Allah) mengilhamkan kepadanya (manusia) kejahatan dan ketaqwaan”. Dari ayat diatas dapat ditarik suatu ajakan agar kita memilih jalan ketaqwaan itu. Jalan ketaqwaan itulah energi positif yang kita maksud.
Marilah kita atur kedua energi didalam jiwa kita. Kalau perlu bantu energi positif berperang melawan energi negatif. Sehingga perbuatan kita selalu diliputi oleh energi positif yang diliputi pikiran yang jernih, nurani yang bersih, spirit yang kuat, keteguhan prinsip serta cita-cita yang luhur.

Read more...

9.20.2008

Dibanding Iblis

Sudah jamak diketahui cerita tentang iblis zaman dahulu. Ketika Adam diciptakan oleh Allah swt dari segumpal tanah, Allah lalu memerintahkan kepada para malaikat agar bersujud kepada Adam. Semua malaikat bersujud kecuali iblis karena sombong dan takabur, sombong karena iblis diciptakan dari api sedangkan Adam diciptakan dari tanah.
Semenjak itu, iblis dilaknat oleh Allah dan dijanjikan masuk neraka di akhirat nanti “hanya” karena melanggar 1 saja perintah Allah. Perintah itu adalah bersujud hormat kepada Adam. Peristiwa itulah yang mengawali ketakaburan iblis dan memunculkan suatu benih permusuhan antara Iblis dan anak-anak Adam.
Marilah kita lihat diri kita sendiri. Sudahkah kita menjalankan perintah Allah dengan sepenuh hati? Sudahkah kita meninggalkan perbuatan yang dilarang oleh Allah? Cukup kita sendiri saja yang menjawabnya.
Suatu apabila kita tak menjalankan perbuatan yang sesuai digariskan oleh Allah swt, tentu kita akan lebih celaka daripada Iblis. Jika kita meninggalkan shalat, padahal dalam Al-Qur’an ada puluhan ayat tentang perintah shalat, tentu celaka kita berpuluh kali lipat daripada iblis. Iblis hanya melanggar 1 perintah Allah sedangkan kita sendiri, berapa puluh ayat dan perintah Allah yang kita dustakan? Jika dengan analogi demikian, kita tentu jauh lebih celaka daripada iblis.
Oleh sebab itu, cukup satu solusi. Yaitu masuk Islam secara kaffah (menyeluruh). Kita tidak bisa memilih Islam dalam satu aspek namun meninggalkan satu bagian yang lain. Islam adalah imparsial dan global, sehingga harus dipahami secara sempurna hingga dapat menjadi acuan dalam hidup kita?
Jika belum tahu ajaran Islam secara menyeluruh? Datangi majlis ilmu, internet, buku, teman yang taat memegang Islam, dll. Insya Allah kita menjadi hamba yang dapat memegang Islam dalam hidup. Amin.

Read more...

9.16.2008

Menulis


Membaca dan menulis tentu telah menjadi sebagian besar hobi para laskar pengeblog yang selalu berkutat dengan tulis-menulis post yang harus diupdate tiap hari. Dalam menulis sesuatu atau terutama posting, perlu keuletan dan kesabaran khusus dalam menjalaninya.
Jujur saja sebelumnya saya benci dengan tulis-menulis. Saya ga respek dengan ekskul jurnalistik di sekolah, mencibir para pemilik buku harian, serta paling malas ketika ada pelajaran menulis di sekolah. Saya memang suka membaca. Tapi suka membaca belum tentu suka menulis.
Entah kenapa setelah asyik dengan blog ini, saya menjadi sering menulis dan memunculkannya dalam post. Kebiasaan itu muncul begitu saja. Memang pertama kali saya tertarik blog dari cara desainnya. Tapi lama-lama saya sadar kalau blog yang penting adalah isinya atau postingnya.
Menulis bukan berarti iseng. Menulis bukan berarti membuang-buang waktu. Menulis bukan berarti pekerjaan pengangguran. Namun menulis adalah langkah untuk menciptakan sejarah! Dengan menulis, kita membuat sejarah kita sendiri! Minimal mencatatkannya di internet dan bisa dibaca orang-orang!
Kita ingat, inti sejarah ada pada tulisan. Ketika Hulagu Khan ingin menghancurkan sejarah Baghdad, Hulagu memerintahkan untuk membakar perpustakaan dan membenamkan buku-buku ke Sungai Efrat dan Tigris.
Juga Amerika ketika ingin menghancurkan Iraq, Amerika mengarahkan rudal-rudalnya ke pusat ilmu seperti perpustakaan. Itu berfungsi agar sejarah Iraq sedikit demi sedikit terhapuskan.
Sejarah kita, besar atau kecil akan tercatat dan diketahui banyak orang. Selain itu, menulis membuat kita panjang umur. Bukan karena kita awet muda dan ajal kita tertunda. Namun panjang umur karena kita akan diingat orang-orang karena tulisan kita. Dan tulisan-tulisan kita terutama di postingan akan dibaca orang lain bahkan orang-orang sesudah kita.
Selain itu, menulis dapat membangkitkan gelora dan membarakan semangat yang mungkin kendor. Menulis dapat membuat kita optimis untuk maju dan bertindak. Juga seorang pakar mengatakan, bahwa 25% masalah kita akan terpecahkan apabila kita menulis.
Jangan tunda waktu kita lagi! Goreskan tinta sejarah kita, ketikkan bait-bait kehidupan kita dengan menulis!
AYO KITA MENULIS!
MENULIS UNTUK KEABADIAN!

Read more...

9.09.2008

Sakit!

Di suatu desa yang asri, ada seorang anak kecil baru saja melihat proses keluarnya kupu-kupu yang indah dari kepompong yang telah lama membungkusnya. Detik-detik proses itu dia amati dengan seksama. Dari berlubangnya pupa, keluarnya kepala kupu-kupu, hingga seluruh tubuh kupu-kupu berhasil keluar. Dia sedikit kasihan melihat perjuangan kupu-kupu untuk melewati lubang pupa yang sempit tersebut. Setelah berhasil keluar, kupu-kupu tersebut mulai terbang dan mengepakkan sayapnya.
Esoknya anak kecil itu melihat kupu-kupu lain yang mencoba melihat dunia dengan keluar dari pupanya. Dia kembali kasihan ketika melihat kupu-kupu harus melewati lubang sempit yang ada pada pupa. Berniat ingin membantu dan mengurangi rasa sakit kupu-kupu, anak kecil itu membuka lubang sempit pupa menjadi lubang yang cukup besar agar cukup dilewati oleh kupu-kupu tadi. Sesuai dengan harapannya, kupu-kupu tadi dengan mudah keluar dari pupa.
Namun kejadian sesudahnya tak sesuai dengan harapan. Sayap kupu-kupu tadi terkulai lemas dan setelah ditunggu sekian lama kupu-kupu tersebut tetap tak bisa terbang dan akhirnya jatuh ke tanah. Itu disebabkan karena lubang sempit penyebab rasa sakit itu mampu memaksa darah kupu-kupu untuk meresap ke dalam sayap. Sehingga rasa sakit akibat melewati lubang itu sesuai dengan hasilnya yaitu dapat terbang dan menjalani hidup kupu-kupu dengan sempurna..
Itulah sebuah contoh bahwa rasa sakit untuk mencapai suatu keberhasilan yang mahal pasti mutlak adanya. Kita tentu tahu bagaimana Thomas Edison berulang kali gagal dan setelah kesekian ribu kali gagal. Akhirnya dia berhasil. Tentu setiap kegagalan yang dia alami ada rasa sakit. Entah rasa sakit akibat kecewa, dana yang terbatas, ataupun cemoohan orang-orang sekitar.
Cerita mengenai sebuah rasa sakit sebuah kegagalan, aku punya sedikit analogi. Mutiara yang indah dihasilkan dari seekor kerang yang mengalami rasa sakit luar biasa. Rasa sakit yang ditimbulkan itu berasal dari luka akibat pasir yang masuk ke tubuh kerang itu. Pasir itu akhirnya ditutupi oleh cairan kerang tadi sehingga mengeras dan membentuk mutiara yang mahal harganya
Suatu saat, kegagalan atau musibah dapat membuat kita jatuh. Namun bukan semestinya ketika jatuh itu kita tak bangun lagi. Sudah banyak yang mengetahui bahwa orang hebat bukanlah orang yang tidak pernah jatuh, akan tetapi orang hebat adalah orang yang segera bangkit bila dia terjatuh.
Cara kita “terjatuh” di dunia ini sungguh bermacam-macam. Dari hal yang simpel sampai hal yang komplek dan rumit. Mulai dari masalah karir, bisnis, pendidikan, rumah tangga hingga urusan pemerintahan. Dan seberapa dalam kita terjatuh serta terperosok juga bermacam-macam. Ada yang cuma oleng terjatuh hingga terjembab tak berdaya ketika terjatuh.
Akhirnya selesai juga buat postingan…….

Read more...

9.05.2008

Kebiasaan!

Alhamdulillah aku akhirnya bisa menerbitkan posting kembali. Kali ini aku memberikan tema yaitu sebuah kebiasaan. Kebiasaan bermula dari suatu kegiatan yang kita lakukan secara terus menerus dan diulang-ulang. Lama-lama kegiatan tersebut menjadi kegiatan di bawah sadar kita dan secara refleks akan kita lakukan.
Kebiasaan inilah yang Islam sebut dengan akhlaq. Akhlaq atau kebiasaan yang baik tentu bermula dari kegiatan-kegiatan yang baik pula. Akhlaq yang buruk juga berasal dari perbuatan yang buruk pula. Marilah pada bulan Ramadhan yang penuh berkah ini kita membangun kembali kebiasaan kita dengan memulai dengan kegiatan dan amalan-amalan yang positif dan bermanfaat.
Kebiasaan secara tak langsung akan dilakukan secara tidak sadar. Seperti pada cerita di bawah ini. Pada suatu hari, di sebuah apartemen mewah di Jakarta terjadi musibah yang membuat panik banyak orang. Apartemen tersebut mengalami kebakaran hebat sehingga membutuhkan puluhan mobil armada pemadam kebakaran. Tak ayal kejadian itu memacetkan jalan protokol yang membelah kota Jakarta itu.
3 Jam kebakaran berlalu namun api belum bisa dipadamkan juga. Tim medis dan pemadam kebakaran yang sudah kelelahan sudah mulai putus asa. Rasa keputus-asaan itu buyar demi melihat seorang ibu berteriak-teriak di lantai 6 apartemen. Kepala tim memerintahkan agar menempatkan tangga mobil untuk menyelamatkan ibu tadi.
Tak diharapkan, ibu tersebut menolak menggunakan tangga karena takut ketinggian. Dan dia berteriak takut karena melewati tangga darurat apartemen sudah tertutup api. Ditengah kebingungan itu, ibu itu juga berteriak bahwa ibu tersebut mempunyai bayi berusia 8 tahun.
Walaupun sudah dibesarkan hatinya, ibu tak mau melewati tangga mobil karena takut akan keselamatan bayinya. Pemadam kebakaran yang sudah ciut nyalinya enggan mengambil resiko menuju ke lantai 6 yang diperkirakan sebentar lagi akan hangus dan runtuh.
Di tengah semrawutnya keadaan, datanglah kiper legendaris Jerman Oliver Kahn. Melihat Oliver Kahn, kepala pemadam kebakaran mendapat ide. “Bu, anakmu lemparkan saja ke bawah! Ntar bisa ditangkep sama Oliver Kahn si Kiper dari Jerman!”. Sang ibu yang mengenal betul Kahn karena dia adalah pemain favorit almarhum suaminya tak ragu mengiyakan perintah kepala tim.
Kahn yang sudah bersiap-siap menangkap bayi walau tanpa sarung tangan menunggu bayi yang dijatuhkan. Ibu yang tak ragu lagi demi melihat pemain favorit suaminya langsung menjatuhkan bayinya ke bawah. Detik-detik yang dialami bayi ketika jatuh terasa sangat lambat. Oliver Kahn yang terlihat mantap mulai mengambil ancang-ancang. Hup!... Akhirnya dia dapat menangkap bayi itu dan segera mendekapkannya ke dadanya.
Para masyarakat yang bersorak dan bergembira diacuhkannya dan Oliver Kahn segera berlari sekitar 3 meter dan…… Menendang bayi itu layaknya bola!
Kebiasaan yang kita lakukan walaupun hal yang terkecil sekalipun akan otomatis kita lakukan tanpa berpikir terlebih dahulu. Mengenai kebiasaan, prinsip berpikir sebelum bertindak mendekati nol dalam realisasinya. Untuk mencegah kebiasaan buruk yang mungkin kita lakukan, mungkin kita harus dapat melakukan tindakan yang positif agar memunculkan kebiasaan yang positif pula.

Read more...

8.13.2008

Anak Monyet


Seekor anak monyet bersiap-siap hendak melakukan perjalanan jauh. Ia merasa sudah bosan dengan hutan tempat hidupnya sekarang. Ia mendengar bahwa di bagian lain dunia ini ada tempat yang disebut "hutan" di mana ia berpikir akan mendapatkan tempat yang lebih "baik". "Aku akan mencari kehidupan yang lebih baik!" katanya. Orangtua si Monyet, meskipun bersedih, melepaskan kepergiannya. "Biarlah ia belajar untuk kehidupannya sendiri," kata sang Ayah kepada sang Ibu dengan bijak.

Maka pergilah si Anak Monyet itu mencari "hutan" yang ia gambarkan sebagai tempat hidup kau Monyet yang lebih baik. Sementara kedua orangtuanya tetap tinggal di hutan itu. Waktu terus berlalu, sampai suatu ketika, si Anak Monyet itu secara mengejutkan kembali ke orangtuanya. Tentu kedatangan anak semata wayang itu disambut gembira orangtuanya.

Sambil berpelukan, si Anak Monyet berkata, "Ayah, Ibu, aku tidak menemukan hutan seperti yang aku angan-angankan. Semua binatang yang aku temui selalu keheranan setiap aku menceritakan bahwa aku akan bergi ke sebuah tempat yang lebih baik bagi semua binatang yang bernama hutan." "Malah, mereka mentertawakanku." sambungnya sedih. Sang Ayah dan Ibu hanya tersenyum mendengarkan si Anak Monyet itu. "Sampai aku bertemu dengan Gajah yang bijaksana," lanjutnya, "Ia mengatakan bahwa sebenarnya apa yang aku cari dan sebut sebagai hutan itu adalah hutan yang kita tinggali ini!. Kamu sudah mendapatkan dan tinggal di m hutan itu!" Benar, anakku. Kadang-kadang kita memang berpikir tentang hal-hal yang
jauh, padahal apa yang dimaksud itu sebenarnya sudah ada di depan mata."

Kita semua adalah si Anak Monyet itu. Hal-hal sederhana, hal-hal ada di sekitar kita tidak kita perhatikan. Justru kita melihat hal yang "jauh-jauh" yang pada dasarnya sudah di depan mata. Kita gelisah dengan karir pekerjaan, kita gelisah dengan sekolah anak-anak, kita gelisah dengan segala
rencana kehidupan kita. Padahal, yang pekerjaan kita sekarang adalah bagian dari karir kita. Padahal, anak-anak kita bersekolah sekarang adalah bagian dari proses pendidikan mereka dan hidup yang kita jalani adalah bagian dari rangkaian kehidupan kita ke masa yang akan datang.

Tanpa mengecilkan arti masa depan dan sesuatu yang lebih baik, ada baiknya apabila kita fokus dengan apa yang ada di depan mata, apa yang kita kerjakan sekarang, karena hal ini akan berpengaruh terhadap masa depan Anda. Dia memandangku dan berkata, "Kamu belajar dengan cepat, tapi jawabanmu masih salah karena banyak orang yang buta."

Gagal lagi, aku meneruskan usahaku mencari jawaban baru dan dari tahun ke tahun, Ibu terus bertanya padaku beberapa kali dan jawaban dia selalu, "Bukan. Tapi, kamu makin pandai dari tahun ke tahun, anakku."

Akhirnya tahun lalu, kakekku meninggal. Semua keluarga sedih. Semua menangis. Bahkan, ayahku menangis. Aku sangat ingat itu karena itulah saat kedua kalinya aku melihatnya menangis. Ibuku memandangku ketika tiba giliranku untuk mengucapkan selamat tinggal pada kakek.

Dia bertanya padaku, "Apakah kamu sudah tahu apa bagian tubuh yang paling penting, sayang?"

Aku terkejut ketika Ibu bertanya pada saat seperti ini. Aku sering berpikir, ini hanyalah permainan antara Ibu dan aku.

Ibu melihat kebingungan di wajahku dan memberitahuku, "Pertanyaan ini penting. Ini akan menunjukkan padamu apakah kamu sudah benar- benar"hidup". Untuk semua bagian tubuh yang kamu beritahu padaku dulu, aku selalu berkata kamu salah dan aku telah memberitahukan kamu kenapa. Tapi, hari ini adalah hari di mana kamu harus belajar pelajaran yang sangat penting."

Dia memandangku dengan wajah keibuan. Aku melihat matanya penuh dengan air mata. Dia berkata, "Sayangku, bagian tubuh yang paling penting adalah bahumu." Aku bertanya, "Apakah karena fungsinya untuk menahan kepala?" Ibu
membalas, "Bukan, tapi karena bahu dapat menahan kepala seorang teman atau orang yang kamu sayangin ketika mereka menangis. Kadang-kadang dalam hidup ini, semua orang perlu bahu untuk menangis. Aku cuma berharap, kamu punya cukup kasih sayang dan teman-teman agar kamu selalu punya bahu untuk menangis kapan pun kamu membutuhkannya."

Akhirnya, aku tahu, bagian tubuh yang paling penting adalah tidak menjadi orang yang mementingkan diri sendiri. Tapi, simpati terhadap penderitaan yang dialamin oleh orang lain. Orang akan melupakan apa yang kamu katakan... Orang akan melupakan apa yang kamu lakukan... Tapi, orang TIDAK akan pernah lupa bagaimana kamu membuat mereka berarti.

Read more...

8.06.2008

Be Yourself!

Seorang motivator diundang oleh sekelompok kaum nudis (sekelompok orang yang dalam pertemuan-pertemuan tertentu tidak menggunakan busana alias telanjang. Kelompok nudis ini melakukan acara training dan motivasi selama 3 hari di hotel langganan mereka. Sang motivator yang mendapat jatah di hari kedua sudah datang di hari pertama dengan tujuan lebih mudah menyesuaikan diri.
Karena motivator menginap di hotel yang sama dengan kaum nudis, maka motivator di hari pertama meninjau pertemuan kaum nudis. Begitu masuk, motivator terkeget-kaget karena melihat semua peserta termasuk pembicaranya menghadiri acara tanpa busana. Sedangkan dia yang menggunakan jas lengkap dan berdasi menjadi perhatian publik nudis.
Sesampai di kamar, sang motivator mulai merenung dan menimbang apakah dia perlu untuk berlaku sama dengan bertelanjang ataukah tetap berpakaian lengkap. Setelah memikirkan baik dan buruknya, dia memilih bertelanjang ketika seminar di keesokan harinya. Dia berpikir dia mendapat pengalam pertama bertelanjang di muka umum, menghormati peserta acara, serta pihak hotel sudah memaklumi acara kaum nudis ini sehingga tak akan menimbulkan friksi.
Tiba saatnya untuk berceramah, sang motivator datang menuju ruangan tanpa menggunakan pakaian pun. Begitu memasuki ruangan, betapa kagetnya dia dan seluruh peserta yang hadir, karena seluruh peserta motivasi mengenakan setelan jas rapi untuk menghormati motivator tamu dan hanya motivator yang bertelanjang di ruangan tersebut.
“anda akan gagal kalau coba-coba meniru orang lain, tetapi kalau anda memilih anda, anda akan menjadi anda terbaik yang pernah ada” Seorang yang arif dan bijaksana pastilah tahu kelebihan dan kekurangan yang diberikan oleh Allah kepada kita. Sehingga dengan itu kita bisa memahami diri kita sendiri
Jika kita ingin meniru orang lain mentah-mentah, maka itu lambat laun akan menghancurkan kita. Hal ini mulai marak terjadi di Indonesia, semua melakukannya agar pimpinan senang, istri senang, suami senang, bos senang tanpa mengindahkan akal sehat. Hal ini dikenal ketika era Orba dengan “ABS” asal bapak senang.
Menjadi diri anda bukanlah suatu aib karena anda memiliki kekurangan. Tapi dengan kelebihan yang anda punya itu, anda dapat menutupi kekurangan anda.
Anda bisa meneriakkan hati kecil anda secara lantang :BE MYSELF!!!!!!!!!!!!!

Read more...

8.03.2008

Tujuan Hidup Seorang Muslim

Suatu hari salah seorang rekan kita bertanya, “apa tujuan hidupmu?”. Pertanyaan yang terdengar klise dan mudah sekaligus sulit untuk dijawab. Ya! Sangat sulit dijawab karena dianggap sebuah ancaman oleh orang yang tak memaknai hidup, namun bagaikan pancaran energi bagi orang yang memahami esensi kehidupan ini. Hidup tanpa tujuan ibarat kata tanpa huruf, tata surya tanpa bintang dan dunia tanpa kutub.
Apapun tujuan hidup kita, itu akan mewarnai hari-hari kita dan menentukan langkah kita kedepannya. Baik atau buruk tujuan hidup orang tersebut, tujuan hidup akan memberikan kesan yang mendalam dalam melakukan perbuatan sehari-hari.
Kita kembali ke pertanyaan di atas. Pertanyaan itu terjawab tergantung oleh seberapa dalam orang itu meresapi arti kehidupan. Penetapan tujuan hidup merupakan bagian yang terpenting dan usaha merealisasikan tujuan hidup merupakan seni tersendiri.
Seperti kisah ini yang kualami beberapa waktu yang lalu. Saat itu, aku sepulang sekolah mendapat sedikit musibah yaitu ban sepeda motor saya bocor. Di siang hari yang terik itu aku terpaksa menuntun sepeda motorku

Read more...

7.31.2008

Agar Tak Mudah Putus Asa

Putus asa? mungkin perlu penyegaran kembali pikiran-pikiran kita yang sudah jenuh. sudah melihat artikel ini Putus asa akan menghampiri kita saat kita menempuh perjalanan yang panjang atau mendapatkan kegagalan dari perjalanan-perjalan yang kita tempuh. Bagaimana agar kita tidak putus asa?

Mari kita ibaratkan perjalanan panjang seperti lari marathon. Anda pernah marathon? Yang kita rasakan pada saat kita sedang berlari dalam jarak yang jauh ialah keinginan segera berhenti, minum, dan beristirahat. Lalu mengapa tidak berhenti? Jika Anda berlari atas inisiatif sendiri, kemungkinan Anda berhenti akan lebih besar ketimbang seorang atlit yang sedang berlomba. Mengapa? Karena imbalan yang akan didapat lebih menarik dan lebih jelas. Kalau dia tidak sampai, bukan hanya tidak akan mendapatkan juara, tetapi juga malu. Jadi agar Anda tidak putus asa, maka Anda harus memiliki tujuan yang sangat menggairahkan Anda dan jelas.

Mungkin saja, saat kita berlari, kita tidak ingin untuk berhenti. Tetapi akhirnya berhenti juga karena kita sangat kelelahan. Dengan kata lain energi kita sudah terkuras habis. Seorang atlit tidak akan mudah kelelahan karena >dia memiliki energi yang cukup. Energi yang tentu saja didapat dari latihan yang cukup dan makanan yang dikonsumsinya. Begitu juga jika kita tidak ingin cepat putus asa maka kita harus memiliki energi yang cukup. Baik energi dalam arti sebenarnya, maupun energi dalam arti motivasi.

Gagal lagi, gagal lagi, dan gagal lagi. Hal seperti ini pun akan memungkinkan kita putus asa. Anda telah mencoba, Anda telah bersabar, dan Anda telah berusaha, namun kegagalan dan kegagalan yang menemui Anda. Keadaan seperti ini bisa diibaratkan seperti sesorang yang sedang mencari suatu tempat tetapi tidak mengetahui harus lewat mana.

Jika jalan yang Anda ketahui sedikit, maka Anda akan cepat berhenti karena tidak ada jalan lagi yang bisa ditempuh. Tetapi jika Anda mengetahui banyak jalan, maka Anda mencoba jalan yang lainnya sampai menemukan jalan yang benar. Semakin banyak jalan yang Anda ketahui dan energi Anda masih cukup maka kemungkin untuk bergerak terus masih sangat memungkinkan.

Jalan yang dimaksud disini adalah ide. Saat Anda gagal dengan satu ide, maka Anda bisa mencoba ide yang lain. Ide tersebut bisa Anda dapatkan baik dari ide sendiri maupun ide dari orang lain. Agar bisa menghasilkan ide sendiri maka diperlukan kreativitas. Sementara untuk mengetahui ide dari orang lain, maka yang diperlukan adalah menuntut ilmu.

Read more...

  © Blogger template Newspaper III by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP