9.09.2008

Sakit!

Di suatu desa yang asri, ada seorang anak kecil baru saja melihat proses keluarnya kupu-kupu yang indah dari kepompong yang telah lama membungkusnya. Detik-detik proses itu dia amati dengan seksama. Dari berlubangnya pupa, keluarnya kepala kupu-kupu, hingga seluruh tubuh kupu-kupu berhasil keluar. Dia sedikit kasihan melihat perjuangan kupu-kupu untuk melewati lubang pupa yang sempit tersebut. Setelah berhasil keluar, kupu-kupu tersebut mulai terbang dan mengepakkan sayapnya.
Esoknya anak kecil itu melihat kupu-kupu lain yang mencoba melihat dunia dengan keluar dari pupanya. Dia kembali kasihan ketika melihat kupu-kupu harus melewati lubang sempit yang ada pada pupa. Berniat ingin membantu dan mengurangi rasa sakit kupu-kupu, anak kecil itu membuka lubang sempit pupa menjadi lubang yang cukup besar agar cukup dilewati oleh kupu-kupu tadi. Sesuai dengan harapannya, kupu-kupu tadi dengan mudah keluar dari pupa.
Namun kejadian sesudahnya tak sesuai dengan harapan. Sayap kupu-kupu tadi terkulai lemas dan setelah ditunggu sekian lama kupu-kupu tersebut tetap tak bisa terbang dan akhirnya jatuh ke tanah. Itu disebabkan karena lubang sempit penyebab rasa sakit itu mampu memaksa darah kupu-kupu untuk meresap ke dalam sayap. Sehingga rasa sakit akibat melewati lubang itu sesuai dengan hasilnya yaitu dapat terbang dan menjalani hidup kupu-kupu dengan sempurna..
Itulah sebuah contoh bahwa rasa sakit untuk mencapai suatu keberhasilan yang mahal pasti mutlak adanya. Kita tentu tahu bagaimana Thomas Edison berulang kali gagal dan setelah kesekian ribu kali gagal. Akhirnya dia berhasil. Tentu setiap kegagalan yang dia alami ada rasa sakit. Entah rasa sakit akibat kecewa, dana yang terbatas, ataupun cemoohan orang-orang sekitar.
Cerita mengenai sebuah rasa sakit sebuah kegagalan, aku punya sedikit analogi. Mutiara yang indah dihasilkan dari seekor kerang yang mengalami rasa sakit luar biasa. Rasa sakit yang ditimbulkan itu berasal dari luka akibat pasir yang masuk ke tubuh kerang itu. Pasir itu akhirnya ditutupi oleh cairan kerang tadi sehingga mengeras dan membentuk mutiara yang mahal harganya
Suatu saat, kegagalan atau musibah dapat membuat kita jatuh. Namun bukan semestinya ketika jatuh itu kita tak bangun lagi. Sudah banyak yang mengetahui bahwa orang hebat bukanlah orang yang tidak pernah jatuh, akan tetapi orang hebat adalah orang yang segera bangkit bila dia terjatuh.
Cara kita “terjatuh” di dunia ini sungguh bermacam-macam. Dari hal yang simpel sampai hal yang komplek dan rumit. Mulai dari masalah karir, bisnis, pendidikan, rumah tangga hingga urusan pemerintahan. Dan seberapa dalam kita terjatuh serta terperosok juga bermacam-macam. Ada yang cuma oleng terjatuh hingga terjembab tak berdaya ketika terjatuh.
Akhirnya selesai juga buat postingan…….

Read more...

9.05.2008

Kebiasaan!

Alhamdulillah aku akhirnya bisa menerbitkan posting kembali. Kali ini aku memberikan tema yaitu sebuah kebiasaan. Kebiasaan bermula dari suatu kegiatan yang kita lakukan secara terus menerus dan diulang-ulang. Lama-lama kegiatan tersebut menjadi kegiatan di bawah sadar kita dan secara refleks akan kita lakukan.
Kebiasaan inilah yang Islam sebut dengan akhlaq. Akhlaq atau kebiasaan yang baik tentu bermula dari kegiatan-kegiatan yang baik pula. Akhlaq yang buruk juga berasal dari perbuatan yang buruk pula. Marilah pada bulan Ramadhan yang penuh berkah ini kita membangun kembali kebiasaan kita dengan memulai dengan kegiatan dan amalan-amalan yang positif dan bermanfaat.
Kebiasaan secara tak langsung akan dilakukan secara tidak sadar. Seperti pada cerita di bawah ini. Pada suatu hari, di sebuah apartemen mewah di Jakarta terjadi musibah yang membuat panik banyak orang. Apartemen tersebut mengalami kebakaran hebat sehingga membutuhkan puluhan mobil armada pemadam kebakaran. Tak ayal kejadian itu memacetkan jalan protokol yang membelah kota Jakarta itu.
3 Jam kebakaran berlalu namun api belum bisa dipadamkan juga. Tim medis dan pemadam kebakaran yang sudah kelelahan sudah mulai putus asa. Rasa keputus-asaan itu buyar demi melihat seorang ibu berteriak-teriak di lantai 6 apartemen. Kepala tim memerintahkan agar menempatkan tangga mobil untuk menyelamatkan ibu tadi.
Tak diharapkan, ibu tersebut menolak menggunakan tangga karena takut ketinggian. Dan dia berteriak takut karena melewati tangga darurat apartemen sudah tertutup api. Ditengah kebingungan itu, ibu itu juga berteriak bahwa ibu tersebut mempunyai bayi berusia 8 tahun.
Walaupun sudah dibesarkan hatinya, ibu tak mau melewati tangga mobil karena takut akan keselamatan bayinya. Pemadam kebakaran yang sudah ciut nyalinya enggan mengambil resiko menuju ke lantai 6 yang diperkirakan sebentar lagi akan hangus dan runtuh.
Di tengah semrawutnya keadaan, datanglah kiper legendaris Jerman Oliver Kahn. Melihat Oliver Kahn, kepala pemadam kebakaran mendapat ide. “Bu, anakmu lemparkan saja ke bawah! Ntar bisa ditangkep sama Oliver Kahn si Kiper dari Jerman!”. Sang ibu yang mengenal betul Kahn karena dia adalah pemain favorit almarhum suaminya tak ragu mengiyakan perintah kepala tim.
Kahn yang sudah bersiap-siap menangkap bayi walau tanpa sarung tangan menunggu bayi yang dijatuhkan. Ibu yang tak ragu lagi demi melihat pemain favorit suaminya langsung menjatuhkan bayinya ke bawah. Detik-detik yang dialami bayi ketika jatuh terasa sangat lambat. Oliver Kahn yang terlihat mantap mulai mengambil ancang-ancang. Hup!... Akhirnya dia dapat menangkap bayi itu dan segera mendekapkannya ke dadanya.
Para masyarakat yang bersorak dan bergembira diacuhkannya dan Oliver Kahn segera berlari sekitar 3 meter dan…… Menendang bayi itu layaknya bola!
Kebiasaan yang kita lakukan walaupun hal yang terkecil sekalipun akan otomatis kita lakukan tanpa berpikir terlebih dahulu. Mengenai kebiasaan, prinsip berpikir sebelum bertindak mendekati nol dalam realisasinya. Untuk mencegah kebiasaan buruk yang mungkin kita lakukan, mungkin kita harus dapat melakukan tindakan yang positif agar memunculkan kebiasaan yang positif pula.

Read more...

8.29.2008

Okelah juga....

Sebenarnya aku sudah agak jengah dan judeg pula selalu mendengar dan membahas masalah ini. Masalah yang klise dan sebenarnya ada yang lebih urgen. Yaitu masalah tentang suatu hadist Rasulullah saw yang mengatakan pada akhir zaman umat Islam akan terpecah menjadi beberapa golongan. Golongan yang selamat di akhir zaman yaitu adalah As-sunnah dan Al-Jamaah.
Yang menjadi dipermasalahkan adalah ketika suatu "golongan" merasa bahwa golongannya itulah termasuk golongan yang benar. Dan 73 golongan itu pastilah akan merasa yang paling benar sendiri.
Okelah saya telat bikin post dan bisa disebut mengutip Faqih. Sunniy adalah manhaj dimana seseorang mencintai dan menjalankan sunnah-sunnah Rasulullah. Salafy adalah ketika kita mengikuti dan meneladani umat-umat shalih (shahabat, tabi'in) yang terdahulu. Disebut jamaah ketika kita menjalankan Islam dan menegakkan kalimah Allah secara bersama-sama. Disebut ikhwaniy ketika kita membangun Islam di atas dasar persaudaraan sesama muslim.

Sepantasnyalah setiap muslim menjadi seorang Sunniy yang menegakkan sunnah Rasulullah. Seharusnyalah tiap muslim menjadi Salafy yang meneladani umat shalih terdahulu. Juga setiap muslim harus menegakkan kalimat Allah dalam suatu Jama'ah dan Ikhwaniy.

Okelah kita di Indonesia mengaku sebagai orang Nahdhatul Ulama, Muhammadiyah, Hizbut Tahrir, Salafy, Tarbiyah, dll. Tapi yang paling utama kita tak bisa meninggalkan aturan-aturan seperti Sunniy, Salafy, dll.
Bolehlah kita mengaku sebagai orang Nahdhatul Ulama. Namun di sisi lain kita harus juga mengaku sebagai Muhammadiyah (pengikut Muhammad saw) karena kita adalah umat Muhammad saw. Juga ketika kita mengaku sebagai orang Salafy, seharusnyalah kita juga mengaku sebagai orang Jama'ah karena kita menegakkan Islam secara bersama-sama.
Jika seumpama kita tak mengikuti manhaj atau aturan seperti contoh diatas, kemana kita akan berpegang pada agama Allah?

Jika kita mengaku bukan sebagai Sunniy, sunnah siapa yang akan kita anut?

Jika kita mengaku bukan sebagai Salafy yang meneladani umat terdahulu, lalu umat mana yang akan kita teladani?

kita mengaku bukan sebagai Tablighy, lalu apakah kita puas bahwa Islam dimiliki oleh kita tanpa menyebarkan pada orang lain?

Bila kita mengaku bukan sebagai orang Jamaah, apakah kita mampu menegakkan syari'at Allah seorang diri?

Bila kita mengaku bukan Ikhwaniy, siapa saudara-saudara yang akan membantumu menegakkan Islam?

Read more...

8.23.2008

Akhirnya.....

Setelah melalui berbagai tahap yang melelahkan, akhirnya aku akhirnya menjadi anggota MPK SMA Negeri 1 Surakarta. Tahap yang menurutku sangat gila-gilaan. Tahap eliminasi serta seleksi yang disebut dan “dihaluskan” dengan kata Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK). Bagaimana tidak melelahkan kalau tahap ini dimulai sejak Februari 2008 hingga Juni 2008. Dari tahap wawancara yang cuma berbasa-basi-busa hingga pemantapan di Tawangmangu.
Semenjak LDK kelar, setiap ada event, aku bisa dibilang terkena suatu kutukan. Teman-temanku berkata aku terkena kutukan perkap (perlengkapan). “Kutukan” itu terjadi apabila orang itu masuk ke suatu panitia, maka orang itu akan selalu menjadi divisi perlengkapan. Padahal div. perlengkapan mempunyai konotasi negatif sebagai “kuli halus”.
Di panitia MOS aku menjadi seksi perkap, di panitia pradana (kemah tehunan SMA N 1 Surakarta) aku menjadi divisi perkap juga. Dan Akhirnya……..silahkan baca lanjutannya!
Di organisasi sekolah aku memilih menjadi anggota MMPK (Majelis Musyawarah Perwakilan Kelas). Dan di organisasi itu terdapat beberapa badan, yaitu DPM (inti organisasi), Badan Penilik, BPP (Badan Penyusun Perundangan), serta Komisi A sampai Komisi D.
Sebelumnya BPP diberi nama yaitu BP atau badan pekerja. Dikarenakan bahasanya terlalu kasar dan kesannya “kuli” banget, maka tahun lalu diubah menjadi BPP.
Sebelum masuk MPK, aku sudah berniat masuk BPP karena fungsinya di sekolah cukup kuat yaitu legislatif serta aspiratif. Dan Alhamdulillah aku bisa masuk di BPP dengan selamat sampai tujuan. Yang makin asyik, aku juga satu BPP dengan Faqih.
Namun sialnya……. BPP masih mewarisi “tugas” kasar dari Badan Pekerja (BP) yaitu menjadi badan pekerja atau kulinya MPK. Aku baru tahu kalo BPP harus berperan sebagai kuli. Dan informasi ini baru saja kudapat setelah masuk menjadi BPP.
Dan mungkin temanku benar, kalau “kutukan perkap” masih menempel padaku. Setelah jadi perkap di MOS dan Pradana, aku akhirnya tersangkut di BPP dan harus mengabdi selama 1 tahun kedepan.
Semoga aku ikhlas menjalani “kutukan” ini!
Amin

Read more...

8.18.2008

Marhaban Yaa Ramadhan


Di tengah hiruk pikuknya Olimpiade Beijing 2008 dan kemeriahan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke 63, apakah kita masih sempat memikirkan datangnya bulan Ramadhan yang penuh berkah? Sudahkah kita bersiap bertemu dengan tamu agung yang sebenarnya senantiasa kita nanti-nantikan?
Suatu pertanyaan yang cukup nylekit bagi kita yang menganggap biasa saja terhadap datangnya bulan Ramadhan ini. Dimana kita anggap Ramadhan as commonly month. Sehingga datangnya kita anggap angin lalu saja, bahkan kepergian Ramadhan diibaratkan bagai debu dihapus hujan.
Orang yang sudah menyiapkan segala sesuatunya tentang Ramadhan pastinya akan merasa siap dalam menghadapi dan menjalani indahnya Ramadhan. Pertanyaan selanjutnya, sudah berapa lama kita menyiapkan datangnya Ramadhan?
Sebenarnya, sudah terlambat untuk menyiapkan Ramadhan ketika membaca postingan ini. Untuk menyiapkan amal perbuatan kita di bulan Ramadhan, kita seharusnyalah menyiapkannya semenjak 2 bulan yang lalu atau tepatnya bulan Rajab.
Dua bulan sebelum Ramadhan adalah Rajab dan Sya’ban. Dalam mempersiapkannya, dapat kita analogikan seperti kita menanam benih di bulan Rajab. Di bulan Rajab ini seharusnya kita mulai amal ibadah kita dan mulai memilih “bibit unggul” ibadah kita.
Dan di bulan Sya’ban hendaknya kita menyirami dan merawat benih yang kita tanam di bulan Rajab tersebut. Dengan begitu kita menjaga keajegan dan kekhusyuan ibadah kita serta mulai meninggalkan perbuatan sia-sia yang kita lakukan selama ini.
Barulah pada bulan Ramadhan ini kita akan memanen hasil yang telah kita tanam dan kita rawat. Sehingga di bulan Ramadhan ini kita tak perlu menanam dan merawat amal-amal kita. Sehingga dengan mempersiapkan Ramadhan dua bulan sebelumnya, diharapkan tidak muncul amal-amal karbitan di bulan Ramadhan.
Selain itu, hendaknya kita “melunasi” hutang puasa yang ada sebelum datangnya Ramadhan. Sehingga kewajiban puasa kita dapat terlunasi dan bukan menjadi suatu tanggungan dosa. Dianjurkan pula untuk membangun silaturrahim kepada khususnya saudara-saudara terdekat kita dan meminta maaf kepada saudara yang mungkin pernah kita sakiti.
Manfaat dari mempersiapkan Ramadhan sejak dulu adalah kita sudah dapat terbiasa melakukan ibadah di bulan Ramadhan. Dan manfaat lainnya juga menghindari suatu amal yang setengah matang karena kita lakukan dengan persiapan seadanya di bulan Ramadhan.
Memang sudah terlambat untuk mempersiapkan datangnya bulan Ramadhan sekarang, tapi ayolah kita mulai persiapkan sekarangan daripada tidak sama sekali. Posting ini hanya untuk mengingatkan saja, sehingga kita tahun depan (semoga Allah masih menyampaikan kta di bulan Ramadhan) kita dapat mempersiapkan datangnya Ramadhan dengan persiapan yang lebih matang sehingga kita dapat memanen di bulan Ramadhan dengan tujuan la’allakum tattaquun (menjadi orang yang bertaqwa).
Amin….

Read more...

8.16.2008

Kronik Pradana Manunggal XXIII

Pada tanggal 9, 10, dan 11 Agustus 2008 lalu, sekolahku mengadakan kemah tahunan yang dinamakan Pradana Manunggal XXIII. Diberi angka XXIII karena ini adalah Pradana yang ke-23 di SMA N 1 Surakarta. Aku sebagai kelas 2, tentu menjadi panitia dan sialnya lagi menjadi panitia perlengkapan. Ini ada sepenggal cerita tentang mistik dan klenik di tempat aku kemah tersebut.
Konon, tempat yang aku pakai untuk kemah itu wingit (angker). Aku sih sebagai orang beriman yakin kalo jin itu ada. Tetapi sebagai orang yang beriman pula yakin bahwa Allah akan melindungiku dari makhluknya. Saat awal-awal Pradana, ternyata ada temanku sesama divisi perlengkapan memasang jimat berupa arak dan rokok.
Arak dan rokok itu diletakkan di pendopo bumi perkemahan yang dipakai untuk sholat. Saat itu aku tak tahu tujuannya untuk memasang jimat tersebut. Juga ada orang tua perserta kelas 1 yang mencoba memasang jarum katanya untuk memberi “keamanan”. Untungnya orang itu berhasil kuusir bersama dengan kawan-kawanku.
Siang pada hari pertama, aku yang sedang mengecek kamar mandi dan toilet putri mendapat laporan dari anak perempuan kalo anak itu takut ke WC karena bisa melihat jin di kamar mandi. Setelah kucoba kubesarkan hatinya, dia akhirnya mau ke kamar mandi dan tak ribut lagi. Kejadian itu tak aku sampaikan pada sesama panitia demi kebaikan bersama.
Ketika menjelang maghrib, ruang kesekretariatan digerudug peserta. Peserta sejumlah belasan orang itu takut karena mengaku bisa melihat jin. Akhirnya oleh panitia lain diijinkan untuk tidur di sekretariatan. Ketika maghrib tiba, divisi keamanan menjadi malfungsi karena tak ada panitia yang mau menjadi penjaga di belakang bumi perkemahan putri yang terkenal angker.
Aku yang punya keberanian mencoba mengajak panitia lain untuk menjaga pos belakang dan akhirnya kudapatkan teman 4 orang untuk menjaga pos paling angker. Malam pertama kemah itu aku menjaga total perkemahan cewek dan untunglah ga menemukan gangguan apa-apa.
Pukul dua belas malam aku mencoba ke sekretariatan dan melihat banyak anak yang takut tidur di tenda karena alasan takut liat apa-apa. Setelah aku coba baca dzikir al-ma’tsurat akhirnya anak-anak itu sedikit tenang dan bisa tidur. Setelah itu aku kembali menemui temanku di tenda bahagia.
Pos keamanan berubah menjadi tenda bahagia karena anak-anaknya tertawa bersama dari maghrib sampai sehabis shubuh. Sehingga ketakutan yang melanda pos keamanan belakang sedikit reda. Malahan banyak anggota pos keamanan belakang melihat anak-anak cewek pakai pakaian minim. Duh!
Mulai malam itu aku lupa tentang urusan bir dan rokok yang dipasang temanku tersebut. Memori tentang bir dan rokok itu ditelan oleh kegiatan hari kedua yang padat. Kegiatan hari kedua adalah hiking dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Jam 4 sore hari kedua, aku sedikit merebahkan diri di sekretariatan.
Belum 15 menit aku istirahat, ada temanku yang berteriak “Madena dan Eri kesurupan!”. Madena dan Eri adalah panitia yang masing-masing keamanan dan kesenian. Aku langsung berlari menuju pos tempat Eri dan Madena berjaga hiking, namun tidak ada dan aku menemukan keduanya berada di tenda panitia putri. Aku melihat Eri dan Madena benar-benar kesurupan!
Eri dan Madena menjadi seperti patung boneka dengan tatapan mata kosong. Tapi mereka tak banyak memberontak dan hanya diam dan tak ada omongan seperti patung. Melihat dua temanku kesurupan, aku sedikit memberi bantuan dengan membaca ayat kursi, An-nas, al-falaq, al-ikhlas, dan dzikir al-ma’tsurat. Namun tak ada efeknya sama sekali. Aku sedikit putus asa. Segera kupanggil teman-temanku yang juga punya kapabilitas untuk meruqyah(mengusir jin). Tentunya ruqyah syar’iyyah yang sesuai dengan ajaran Islam.
Setelah teman-temanku datang, mereka berusaha yang terbaik dan hasilnya tetap nihil. Suasana bertambah panas dengan adanya guruku dan beberapa teman panitia yang berusaha mengusir setan dengan cara kejawen. Sama saja dengan mengusir setan dengan memanggil setan, begitu kata temanku. Tapi hasilnya juga sama saja.
Saat itu aku suntuk dan keluar untuk minum air putih sebentar. Setelah aku kembali untuk menemui Eri dan Madena yang masih kesurupan, aku melihat temanku membacakan surah Al-Jin melalui handphonenya. Yah…….. untuk mengingatkan jin kalo dulu mereka pernah terpana mendengar bacaan Al-Qur’an.
Aku duduk di samping Eri dan ikut membaca surah Al-Jin yang untungnya sudah saya hafal. Ketika membaca surah Al-Jin tersebut, mulut eri sedikit menggumam tanpa suara. Dan ketika kuperhatikan dia membaca surah Al-Jin pula. SHIT! Jin hapal qur’an? Bisa dipastikan ga ada panitia yang tahu apa yang digumamkan Eri kecuali teman-temanku yang 3 orang dan sudah hafal Al-Jin.
Aku keluar tenda dan sadar. Jin itu Cuma ngajak bercanda. Masak ada jin (bisa saja muslim) hafal surah Al=Jin yang menrasuki manusia? Temenku yang bernama Faqih juga ngomong kalo jin-nya ngajak bercanda? Tapi apa yang dicandakan? Aku berfikir keras untuk memecahkan suatu permasalahan. Di tengah berkecamuknya pikiranku, sayup-sayup terdengar adzan maghrib. Waktu untuk sholat. Seketika itu pula aku ingat kalo arak dan rokok yang diletakkan di pendopo itu mungkin adalah sesajen.
Aku kembali menuju ke tenda tempat Eri dan Madena berada untuk mengecek keadaannya. Di tengah perjalanan aku ketemu dengan Faqih dan diberi kabar bahwa Eri dan Madena sudah “normal”. Faqih lalu kuberitahu bahwa ada arak dan rokok yang diletakkan di pendopo dengan tujuan mungkin untuk sesajen.
Faqih lalu bergegas mengambilnya dan memecahkan botolnya sembari membuangnya di luar bumi perkemahan. Takbir yang terucap ketika membanting botol itu ke pohon serasa meresap ke seluruh daerah bumper. Setelah itu Faqih yang bertugas sebagai pengawas panitia Pradana langsung memberi peringatan keras kepada panitia tentang aqidah yang benar.
Untungnya, setelah arak dan rokok itu dibuang, tidak ada gangguan satupun dari makhluk ghaib di sekitar bumi perkemahan. Bahkan jurit malampun lancar tanpa suatu halanganpun.
Ketika pulang aku sadar bahwa jin itu (mungkin) muslim dan mau mengingatkan kalo ada yang tak beres berupa sesajen yang dipasang di bumper. Kalo jin sembarangan, pastinya kalo dilakukan ruqyah pasti akan ada reaksi walau sekedar memberontak. Selain itu juga (mungkin) jinnya mau sholat maghrib dulu sehingga Eri dan Madena sudah normal ketika masuk waktu maghrib.
Na’udzubikalimaatillaahi ttaammati min syarri maa khalaq

Read more...

  © Blogger template Newspaper III by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP