8.16.2008

Kronik Pradana Manunggal XXIII

Pada tanggal 9, 10, dan 11 Agustus 2008 lalu, sekolahku mengadakan kemah tahunan yang dinamakan Pradana Manunggal XXIII. Diberi angka XXIII karena ini adalah Pradana yang ke-23 di SMA N 1 Surakarta. Aku sebagai kelas 2, tentu menjadi panitia dan sialnya lagi menjadi panitia perlengkapan. Ini ada sepenggal cerita tentang mistik dan klenik di tempat aku kemah tersebut.
Konon, tempat yang aku pakai untuk kemah itu wingit (angker). Aku sih sebagai orang beriman yakin kalo jin itu ada. Tetapi sebagai orang yang beriman pula yakin bahwa Allah akan melindungiku dari makhluknya. Saat awal-awal Pradana, ternyata ada temanku sesama divisi perlengkapan memasang jimat berupa arak dan rokok.
Arak dan rokok itu diletakkan di pendopo bumi perkemahan yang dipakai untuk sholat. Saat itu aku tak tahu tujuannya untuk memasang jimat tersebut. Juga ada orang tua perserta kelas 1 yang mencoba memasang jarum katanya untuk memberi “keamanan”. Untungnya orang itu berhasil kuusir bersama dengan kawan-kawanku.
Siang pada hari pertama, aku yang sedang mengecek kamar mandi dan toilet putri mendapat laporan dari anak perempuan kalo anak itu takut ke WC karena bisa melihat jin di kamar mandi. Setelah kucoba kubesarkan hatinya, dia akhirnya mau ke kamar mandi dan tak ribut lagi. Kejadian itu tak aku sampaikan pada sesama panitia demi kebaikan bersama.
Ketika menjelang maghrib, ruang kesekretariatan digerudug peserta. Peserta sejumlah belasan orang itu takut karena mengaku bisa melihat jin. Akhirnya oleh panitia lain diijinkan untuk tidur di sekretariatan. Ketika maghrib tiba, divisi keamanan menjadi malfungsi karena tak ada panitia yang mau menjadi penjaga di belakang bumi perkemahan putri yang terkenal angker.
Aku yang punya keberanian mencoba mengajak panitia lain untuk menjaga pos belakang dan akhirnya kudapatkan teman 4 orang untuk menjaga pos paling angker. Malam pertama kemah itu aku menjaga total perkemahan cewek dan untunglah ga menemukan gangguan apa-apa.
Pukul dua belas malam aku mencoba ke sekretariatan dan melihat banyak anak yang takut tidur di tenda karena alasan takut liat apa-apa. Setelah aku coba baca dzikir al-ma’tsurat akhirnya anak-anak itu sedikit tenang dan bisa tidur. Setelah itu aku kembali menemui temanku di tenda bahagia.
Pos keamanan berubah menjadi tenda bahagia karena anak-anaknya tertawa bersama dari maghrib sampai sehabis shubuh. Sehingga ketakutan yang melanda pos keamanan belakang sedikit reda. Malahan banyak anggota pos keamanan belakang melihat anak-anak cewek pakai pakaian minim. Duh!
Mulai malam itu aku lupa tentang urusan bir dan rokok yang dipasang temanku tersebut. Memori tentang bir dan rokok itu ditelan oleh kegiatan hari kedua yang padat. Kegiatan hari kedua adalah hiking dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Jam 4 sore hari kedua, aku sedikit merebahkan diri di sekretariatan.
Belum 15 menit aku istirahat, ada temanku yang berteriak “Madena dan Eri kesurupan!”. Madena dan Eri adalah panitia yang masing-masing keamanan dan kesenian. Aku langsung berlari menuju pos tempat Eri dan Madena berjaga hiking, namun tidak ada dan aku menemukan keduanya berada di tenda panitia putri. Aku melihat Eri dan Madena benar-benar kesurupan!
Eri dan Madena menjadi seperti patung boneka dengan tatapan mata kosong. Tapi mereka tak banyak memberontak dan hanya diam dan tak ada omongan seperti patung. Melihat dua temanku kesurupan, aku sedikit memberi bantuan dengan membaca ayat kursi, An-nas, al-falaq, al-ikhlas, dan dzikir al-ma’tsurat. Namun tak ada efeknya sama sekali. Aku sedikit putus asa. Segera kupanggil teman-temanku yang juga punya kapabilitas untuk meruqyah(mengusir jin). Tentunya ruqyah syar’iyyah yang sesuai dengan ajaran Islam.
Setelah teman-temanku datang, mereka berusaha yang terbaik dan hasilnya tetap nihil. Suasana bertambah panas dengan adanya guruku dan beberapa teman panitia yang berusaha mengusir setan dengan cara kejawen. Sama saja dengan mengusir setan dengan memanggil setan, begitu kata temanku. Tapi hasilnya juga sama saja.
Saat itu aku suntuk dan keluar untuk minum air putih sebentar. Setelah aku kembali untuk menemui Eri dan Madena yang masih kesurupan, aku melihat temanku membacakan surah Al-Jin melalui handphonenya. Yah…….. untuk mengingatkan jin kalo dulu mereka pernah terpana mendengar bacaan Al-Qur’an.
Aku duduk di samping Eri dan ikut membaca surah Al-Jin yang untungnya sudah saya hafal. Ketika membaca surah Al-Jin tersebut, mulut eri sedikit menggumam tanpa suara. Dan ketika kuperhatikan dia membaca surah Al-Jin pula. SHIT! Jin hapal qur’an? Bisa dipastikan ga ada panitia yang tahu apa yang digumamkan Eri kecuali teman-temanku yang 3 orang dan sudah hafal Al-Jin.
Aku keluar tenda dan sadar. Jin itu Cuma ngajak bercanda. Masak ada jin (bisa saja muslim) hafal surah Al=Jin yang menrasuki manusia? Temenku yang bernama Faqih juga ngomong kalo jin-nya ngajak bercanda? Tapi apa yang dicandakan? Aku berfikir keras untuk memecahkan suatu permasalahan. Di tengah berkecamuknya pikiranku, sayup-sayup terdengar adzan maghrib. Waktu untuk sholat. Seketika itu pula aku ingat kalo arak dan rokok yang diletakkan di pendopo itu mungkin adalah sesajen.
Aku kembali menuju ke tenda tempat Eri dan Madena berada untuk mengecek keadaannya. Di tengah perjalanan aku ketemu dengan Faqih dan diberi kabar bahwa Eri dan Madena sudah “normal”. Faqih lalu kuberitahu bahwa ada arak dan rokok yang diletakkan di pendopo dengan tujuan mungkin untuk sesajen.
Faqih lalu bergegas mengambilnya dan memecahkan botolnya sembari membuangnya di luar bumi perkemahan. Takbir yang terucap ketika membanting botol itu ke pohon serasa meresap ke seluruh daerah bumper. Setelah itu Faqih yang bertugas sebagai pengawas panitia Pradana langsung memberi peringatan keras kepada panitia tentang aqidah yang benar.
Untungnya, setelah arak dan rokok itu dibuang, tidak ada gangguan satupun dari makhluk ghaib di sekitar bumi perkemahan. Bahkan jurit malampun lancar tanpa suatu halanganpun.
Ketika pulang aku sadar bahwa jin itu (mungkin) muslim dan mau mengingatkan kalo ada yang tak beres berupa sesajen yang dipasang di bumper. Kalo jin sembarangan, pastinya kalo dilakukan ruqyah pasti akan ada reaksi walau sekedar memberontak. Selain itu juga (mungkin) jinnya mau sholat maghrib dulu sehingga Eri dan Madena sudah normal ketika masuk waktu maghrib.
Na’udzubikalimaatillaahi ttaammati min syarri maa khalaq

  © Blogger template Newspaper III by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP