3.31.2009
12.21.2008
Ibu...........
Mungkin sudah banyak yang tahu mengenai posting ini. Baik oleh majalah, buku, artikel-artikel bahkan posting di blog. Memang tak ada yang istimewa di cerita kali ini.
Ada sedikit renungan untuk diriku dan pembaca juga... .
Ketika aku baru dalam kandungan,
Dia yang dengan setia mengajakku kemana-mana
Ketika aku lahir,
Dia yang mempertaruhkan nyawanya demi diriku,
Ketika aku berumur lima menit.
Dia yang pertama kali memberiku makanan bergizi
Ketika aku berumur satu hari,
Dia yang pertama kali menina-bobokkanku
Ketika aku berumur tujuh hari,
Dia yang memberi dan memanggilku dengan nama yang baik
Ketika aku menangis di malam hari,
Dia yang menenangkan diriku
Ketika aku buang air di celana,
Dia yang tabah membersihkanku
Ketika aku berumur dua bulan,
Dia yang mengajariku untuk memegang sesuatu
Ketika aku berumur empat bulan,
Dia yang mengenalkanku berbagai hal
Ketika aku berumur enam bulan,
Dia yang mengajariku untuk duduk
Ketika aku berumur tujuh bulan,
Dia yang mulai mengajariku untuk makan
Ketika aku berumur delapan bulan,
Dia yang mengajariku untuk berdiri
Ketika aku berumur sembilan bulan,
Dia yang mengajariku untuk berdiri
Ketika aku berumur sepuluh bulan,
Dia yang mengajariku untuk berjalan
Ketika aku berumur sebelas bulan,
Dia yang mengajariku untuk buang air sendiri
Ketika aku berumur dua belas bulan,
Dia yang mengajariku untuk berbicara
Ketika aku berumur dua tahun,
Dia yang susah payah menyapihku
Ketika aku berumur tiga tahun,
Dia yang mengenalkanku pada lingkungan sosial
Ketika aku berumur empat tahun,
Dia yang selalu mengantarkanku ke TK
Ketika aku berumur empat setengah tahun,
Dia yang selalu menghiburku ketika aku menangis
Ketika aku berumur lima tahun,
Dia yang masih sabar memakaikan pakaianku
Ketika aku berumur enam tahun,
Dia yang telaten mengajariku membaca
Apakah jika dia menyuruh kita,
Kita akan menolaknya?
Apakah jika dia menasehati kita,
Kita akan membantahnya?
Apakah jika dia minta tolong pada kita,
Kita akan mendebatnya?
Mari manfaatkan sisa-sisa usia kita dan usia ibu kita untuk menyayangi ibu kita. Jangan sampai kita menyianyiakannya di dunia ini. Apalagi, jangan sampai hanya menyayanginya ketika dia hanya berupa jasad.
Mari kita sayangi ibu kita! Selamat Hari Ibu!
12.15.2008
Gajah
Aku mendapat ide tulisan ini 3 tahun yang lalu ketika aku mengunjungi kebun binatang Kota Solo, yaitu Jurug. Terlepas sekarang Jurug terkena masalah yang rumit, saya takkan membahasnya disini.
Saat itu aku melihat gajah yang cukup besar. Sudah bisa dikatakan dewasa. Aku melihat gajah itu cukup kuat walaupun pergerakannya sangat lemah. Setelah melihat makanannya, tahinya, dan posturnya, aku tertarik pada tali kekang gajah tersebut.
Tali kekang gajah sangat kecil diameternya. Diameternya seperti tali pramuka walaupun bahannya berbeda. Yang semakin membuatku heran, teli tersebut ditambatkan pada sebuah pohon kecil setinggi 2,5 meter. Yang membuatku tak habis pikir, mengapa gajah itu tidak menyentakkan talinya dan bisa terlepas dari kekangnya.
Padahal bila kuperkirakan, gajah itu cukup kuat untuk lepas dari pohonnya. Pohonnya kecil, talinya tipis serta gajahnya kuat.
Setelah aku pikir-pikir, mungkin gajah itu sejak kecil sudah ditali seperti itu. Memang dulu waktu kecil sempat meronta-ronta ketika ditali pada pohon namun tidak kuat karena badannya kecil. Setelah mencoba berkali-kali dan selalu gagal, dia tidak mau mencoba lagi sampai dewasa, walaupun pada saat dewasa dia kuat melakukannya. Dia tak mau mengulanginya ketika dewasa karena menganggap perbuatannya akan gagal lagi.
Manusia dibandingkan dengan gajah? Jangan dibandingkan karena tentu unggul manusia. Gajah seperti cuplikan tadi mengalami suatu kegagalan dan mendapatkan sebuah trauma. Karena pada saat kecil pernah mencobanya namun gagal. Akibat trauma itu dia tak mau mengulanginya sampai kapanpun.Gajah dewasa itu masih berpikir dia akan gagal menyentakkan tali berdasarkan pengalaman di waktu kecil.
Di kehidupan seperti ini, masih ditemukan manusia seperti gajah diatas. Kuat melakukan sesuatu namun pernah gagal dan takut mengulanginya. Padahal seperti yang kita ketahui, bahwa kegagalan adalah awal kesuksesan, kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda, kegagalan adalah pemicu kesuksesan dan lain-lain.
Kita takut mencoba sesuatu karena kita pernah mengalami kegagalan. Kita takut untuk mengalami kegagalan lagi. Dan kita pesimis akan tindakan di masa depan kita
Janganlah kita terpancang pada kegagalan masa lalu kita. Namun jadikan masa lalu yang gagal menjadi masa depan yang bersinar. OK?
11.29.2008
Hibernasi Dulu
Akhirnya perjuangan nge-blogku selama berbulan-bulan harus istirahat juga. Bukan karena jenuh atau bosan. Tapi oleh hal yang tak bisa dihindari oleh siswa sekolah. Yaitu Ujian Semester!
Memang kalo dilihat sepintas memang tidak masalah. Tapi saya ga mau internet rumah diputus karena nilaiku njeblok. Menang saya mengaku kalo saya bukan anak jenius yang pandai Fisika, matematika atau kimia.
Saya sudah kapok tiap ujian pasti ada remidi. Makanya saya istirahat dululah gak pegang internet sebulan. Ujian Semesteranku ga sampai sebulan sih. Cuma kira-kira dua minggu saja. Tapi aku dah memperkirakan kemungkinan terburuk, yaitu remidi. Sehingga aku perkirakan desember full dengan soal-soal yang menyebalkan! Memang berat sih ngga nge-post, ga reply,dsb...
Semoga dengan hibernasi dari internet ini bisa membuatku lebih berkonsentrasi pada Ujian dan semoga lulus tanpa ada remidi!
Dan sangat terpaksa aku ga bisa blogwalking atau berkunjung ke blog teman-teman. Kalo ada pesan atau apa, teman-teman bisa titip di shoutbox, Insya Allah saya akan berkunjung balik atau balas temen-temen!
Tak Lupa minta doa semoga aku lolos Ujian Semester!
10.10.2008
Titik. Tinta, Cantik dan Cinta
Namun tinta yang menyebabkan titik
Bukan cantik yang menyebabkan cinta
Namun cinta yang menyebabkan cantik
Yah…aku mendengar kata-kata itu sudah lama. Tapi aku baru menyadari dan memaknainya sekarang. Kata-kata yang cukup sederhana namun mampu mengguncangkan segenap emosiku…Wuih!
Coba kita cermati dan renungi sejenak, bahwa kita mungkin selama ini kita mencintai dan menyukai sesuatu berdasarkan kecantikannya, keindahannya, kebagusannya, dll. Mencintai sesuatu yang cantik itu wajar dan normal, menyukai sesuatu yang indah, itu biasa dan lumrah.
Namun bukan kecantikan atau keindahan itulah yang menyebabkan kita jatuh cinta ataupun suka. Kita melihat wanita itu cantik, karena kita mencintainya. Kita melihat pria itu tampan, karena kita mencintainya.
Seperti contoh, seorang suami tentu akan mencintai istrinya mati-matian walaupun sang istri bisa dibilang –maaf- tidak cantik. Namun walaupun istrinya ditukar dengan apapun, si suami tentu tidak mau karena dia cinta karena istrinya. Biarpun orang berkata istrinya tidak cantik, namun si suami tetap membela sampai mati bahwa istrinya cantik. Oleh sebab itu suami menganggap istrinya cantik karena cintanya.Saya pernah berkata tentang bait-bait di bagian atas posting ini di depan kelas. Tanggapan dan reaksi teman-temanku ada di luar dugaanku. Aku dibilang : tasteless, “ngomong aja ga punya barang bagus”, “ngaku aja pacarmu jelek”, dll.
Mungkin mereka yang belum menemukan arti cinta sejati atau malah aku yang terlalu ideaalis? Biarpun begitu, tentu kita manusia normal yang tahu arti kata cantik pasti mengerti bahwa cintalah yang menyebabkan cantik.
Oleh sebab itu, mulai di sini saya memberikan dorongan, marilah kita melakukan sesuatu dengan diikuti rasa cinta. Sehingga setiap yang kita lakukan pasti terasa indah! OK?
8.23.2008
Akhirnya.....
Setelah melalui berbagai tahap yang melelahkan, akhirnya aku akhirnya menjadi anggota MPK SMA Negeri 1 Surakarta. Tahap yang menurutku sangat gila-gilaan. Tahap eliminasi serta seleksi yang disebut dan “dihaluskan” dengan kata Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK). Bagaimana tidak melelahkan kalau tahap ini dimulai sejak Februari 2008 hingga Juni 2008. Dari tahap wawancara yang cuma berbasa-basi-busa hingga pemantapan di Tawangmangu.
Semenjak LDK kelar, setiap ada event, aku bisa dibilang terkena suatu kutukan. Teman-temanku berkata aku terkena kutukan perkap (perlengkapan). “Kutukan” itu terjadi apabila orang itu masuk ke suatu panitia, maka orang itu akan selalu menjadi divisi perlengkapan. Padahal div. perlengkapan mempunyai konotasi negatif sebagai “kuli halus”.
Di panitia MOS aku menjadi seksi perkap, di panitia pradana (kemah tehunan SMA N 1 Surakarta) aku menjadi divisi perkap juga. Dan Akhirnya……..silahkan baca lanjutannya!
Di organisasi sekolah aku memilih menjadi anggota MMPK (Majelis Musyawarah Perwakilan Kelas). Dan di organisasi itu terdapat beberapa badan, yaitu DPM (inti organisasi), Badan Penilik, BPP (Badan Penyusun Perundangan), serta Komisi A sampai Komisi D.
Sebelumnya BPP diberi nama yaitu BP atau badan pekerja. Dikarenakan bahasanya terlalu kasar dan kesannya “kuli” banget, maka tahun lalu diubah menjadi BPP.
Sebelum masuk MPK, aku sudah berniat masuk BPP karena fungsinya di sekolah cukup kuat yaitu legislatif serta aspiratif. Dan Alhamdulillah aku bisa masuk di BPP dengan selamat sampai tujuan. Yang makin asyik, aku juga satu BPP dengan Faqih.
Namun sialnya……. BPP masih mewarisi “tugas” kasar dari Badan Pekerja (BP) yaitu menjadi badan pekerja atau kulinya MPK. Aku baru tahu kalo BPP harus berperan sebagai kuli. Dan informasi ini baru saja kudapat setelah masuk menjadi BPP.
Dan mungkin temanku benar, kalau “kutukan perkap” masih menempel padaku. Setelah jadi perkap di MOS dan Pradana, aku akhirnya tersangkut di BPP dan harus mengabdi selama 1 tahun kedepan.
Semoga aku ikhlas menjalani “kutukan” ini!
Amin
8.16.2008
Kronik Pradana Manunggal XXIII
Pada tanggal 9, 10, dan 11 Agustus 2008 lalu, sekolahku mengadakan kemah tahunan yang dinamakan Pradana Manunggal XXIII. Diberi angka XXIII karena ini adalah Pradana yang ke-23 di SMA N 1 Surakarta. Aku sebagai kelas 2, tentu menjadi panitia dan sialnya lagi menjadi panitia perlengkapan. Ini ada sepenggal cerita tentang mistik dan klenik di tempat aku kemah tersebut.
Konon, tempat yang aku pakai untuk kemah itu wingit (angker). Aku sih sebagai orang beriman yakin kalo jin itu ada. Tetapi sebagai orang yang beriman pula yakin bahwa Allah akan melindungiku dari makhluknya. Saat awal-awal Pradana, ternyata ada temanku sesama divisi perlengkapan memasang jimat berupa arak dan rokok.
Arak dan rokok itu diletakkan di pendopo bumi perkemahan yang dipakai untuk sholat. Saat itu aku tak tahu tujuannya untuk memasang jimat tersebut. Juga ada orang tua perserta kelas 1 yang mencoba memasang jarum katanya untuk memberi “keamanan”. Untungnya orang itu berhasil kuusir bersama dengan kawan-kawanku.
Siang pada hari pertama, aku yang sedang mengecek kamar mandi dan toilet putri mendapat laporan dari anak perempuan kalo anak itu takut ke WC karena bisa melihat jin di kamar mandi. Setelah kucoba kubesarkan hatinya, dia akhirnya mau ke kamar mandi dan tak ribut lagi. Kejadian itu tak aku sampaikan pada sesama panitia demi kebaikan bersama.
Ketika menjelang maghrib, ruang kesekretariatan digerudug peserta. Peserta sejumlah belasan orang itu takut karena mengaku bisa melihat jin. Akhirnya oleh panitia lain diijinkan untuk tidur di sekretariatan. Ketika maghrib tiba, divisi keamanan menjadi malfungsi karena tak ada panitia yang mau menjadi penjaga di belakang bumi perkemahan putri yang terkenal angker.
Aku yang punya keberanian mencoba mengajak panitia lain untuk menjaga pos belakang dan akhirnya kudapatkan teman 4 orang untuk menjaga pos paling angker. Malam pertama kemah itu aku menjaga total perkemahan cewek dan untunglah ga menemukan gangguan apa-apa.
Pukul dua belas malam aku mencoba ke sekretariatan dan melihat banyak anak yang takut tidur di tenda karena alasan takut liat apa-apa. Setelah aku coba baca dzikir al-ma’tsurat akhirnya anak-anak itu sedikit tenang dan bisa tidur. Setelah itu aku kembali menemui temanku di tenda bahagia.
Pos keamanan berubah menjadi tenda bahagia karena anak-anaknya tertawa bersama dari maghrib sampai sehabis shubuh. Sehingga ketakutan yang melanda pos keamanan belakang sedikit reda. Malahan banyak anggota pos keamanan belakang melihat anak-anak cewek pakai pakaian minim. Duh!
Mulai malam itu aku lupa tentang urusan bir dan rokok yang dipasang temanku tersebut. Memori tentang bir dan rokok itu ditelan oleh kegiatan hari kedua yang padat. Kegiatan hari kedua adalah hiking dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Jam 4 sore hari kedua, aku sedikit merebahkan diri di sekretariatan.
Belum 15 menit aku istirahat, ada temanku yang berteriak “Madena dan Eri kesurupan!”. Madena dan Eri adalah panitia yang masing-masing keamanan dan kesenian. Aku langsung berlari menuju pos tempat Eri dan Madena berjaga hiking, namun tidak ada dan aku menemukan keduanya berada di tenda panitia putri. Aku melihat Eri dan Madena benar-benar kesurupan!
Eri dan Madena menjadi seperti patung boneka dengan tatapan mata kosong. Tapi mereka tak banyak memberontak dan hanya diam dan tak ada omongan seperti patung. Melihat dua temanku kesurupan, aku sedikit memberi bantuan dengan membaca ayat kursi, An-nas, al-falaq, al-ikhlas, dan dzikir al-ma’tsurat. Namun tak ada efeknya sama sekali. Aku sedikit putus asa. Segera kupanggil teman-temanku yang juga punya kapabilitas untuk meruqyah(mengusir jin). Tentunya ruqyah syar’iyyah yang sesuai dengan ajaran Islam.
Setelah teman-temanku datang, mereka berusaha yang terbaik dan hasilnya tetap nihil. Suasana bertambah panas dengan adanya guruku dan beberapa teman panitia yang berusaha mengusir setan dengan cara kejawen. Sama saja dengan mengusir setan dengan memanggil setan, begitu kata temanku. Tapi hasilnya juga sama saja.
Saat itu aku suntuk dan keluar untuk minum air putih sebentar. Setelah aku kembali untuk menemui Eri dan Madena yang masih kesurupan, aku melihat temanku membacakan surah Al-Jin melalui handphonenya. Yah…….. untuk mengingatkan jin kalo dulu mereka pernah terpana mendengar bacaan Al-Qur’an.
Aku duduk di samping Eri dan ikut membaca surah Al-Jin yang untungnya sudah saya hafal. Ketika membaca surah Al-Jin tersebut, mulut eri sedikit menggumam tanpa suara. Dan ketika kuperhatikan dia membaca surah Al-Jin pula. SHIT! Jin hapal qur’an? Bisa dipastikan ga ada panitia yang tahu apa yang digumamkan Eri kecuali teman-temanku yang 3 orang dan sudah hafal Al-Jin.
Aku keluar tenda dan sadar. Jin itu Cuma ngajak bercanda. Masak ada jin (bisa saja muslim) hafal surah Al=Jin yang menrasuki manusia? Temenku yang bernama Faqih juga ngomong kalo jin-nya ngajak bercanda? Tapi apa yang dicandakan? Aku berfikir keras untuk memecahkan suatu permasalahan. Di tengah berkecamuknya pikiranku, sayup-sayup terdengar adzan maghrib. Waktu untuk sholat. Seketika itu pula aku ingat kalo arak dan rokok yang diletakkan di pendopo itu mungkin adalah sesajen.
Aku kembali menuju ke tenda tempat Eri dan Madena berada untuk mengecek keadaannya. Di tengah perjalanan aku ketemu dengan Faqih dan diberi kabar bahwa Eri dan Madena sudah “normal”. Faqih lalu kuberitahu bahwa ada arak dan rokok yang diletakkan di pendopo dengan tujuan mungkin untuk sesajen.
Faqih lalu bergegas mengambilnya dan memecahkan botolnya sembari membuangnya di luar bumi perkemahan. Takbir yang terucap ketika membanting botol itu ke pohon serasa meresap ke seluruh daerah bumper. Setelah itu Faqih yang bertugas sebagai pengawas panitia Pradana langsung memberi peringatan keras kepada panitia tentang aqidah yang benar.
Untungnya, setelah arak dan rokok itu dibuang, tidak ada gangguan satupun dari makhluk ghaib di sekitar bumi perkemahan. Bahkan jurit malampun lancar tanpa suatu halanganpun.
Ketika pulang aku sadar bahwa jin itu (mungkin) muslim dan mau mengingatkan kalo ada yang tak beres berupa sesajen yang dipasang di bumper. Kalo jin sembarangan, pastinya kalo dilakukan ruqyah pasti akan ada reaksi walau sekedar memberontak. Selain itu juga (mungkin) jinnya mau sholat maghrib dulu sehingga Eri dan Madena sudah normal ketika masuk waktu maghrib.
Na’udzubikalimaatillaahi ttaammati min syarri maa khalaq


