12.19.2008

7500 Rupiah

Syafi’i, seorang manajer cabang suatu bank syariah di Jakarta menatap angka-angka di komputernya dengan cermat. Sejak rekening donasi untuk korban banjir di Jakarta dibuka Desember 2005 lalu, sumbangan berdatangan dari berbagai kalangan. Televisi berulangkali menayangkan nasib naas para korban yang tinggal di tempat pengungsian dalam kondisi seadanya, rumah-rumah tersapu arus, orang-orang yang kesusahan, serta tangisan para anak-anak. Sebagai orang yang ditunjuk sebagai penanggung jawab pengumpulan dana, Syafi’i rutin memeriksa dana yang masuk di rekening.
Transferan donasi masuk bervariasi jumlahnya. Dari 30 juta, 1 juta, 800 ribu, 10 juta, 300, hingga 100 ribu. Syafi’i terus mengecek uang yang masuk, hingga tiba-tiba matanya terhenyak pada angka Rp 7500. Tujuh ribu lima ratus rupiah? Ia penasaran dan mulai membandingkan dengan jumlah lainnya. Tak ada donasi lain yang masuk sekecil itu. Satu kardus mie instan saja tak cukup.
Diamatinya kembali angka Rp 7500. Uang itu dikirim atas nama Hamzah beralamat Malang, melalui transfer bank daerah setempat. Syafi’i ingin menuntaskan rasa ingin tahunya. Kenapa donatur tersebut hanya menyumbang Rp7500, tidak kurang dan tidak lebih. Ia putuskan menelepon bank daerah pengirim uang tersebut.

Hamzah, siswa kelas 3 SD sedang menonton kartun anak-anak saat breaking news seputar banjir Jakarta disiarkan. Tayangan itu menampilkan anak-anak seusianya mengungsi di kelurahan dan masjid, ibu yang digendong oleh para relawan ke perahu karet, penduduk yang memilih bertahan di atap rumah, bapak-bapak yang menjaga hartanya dari penjarah.
Mata Hamzah berkaca-kaca dan terharu menatap gambar di layar kaca tersebut. Saat breaking news diakhiri dengan informasi ‘bagi anda yang ingin membantu korban banjir dapat menyalurkannya melalui melalui rekening no. XX, Bank XX’, sebuah ide terbetik dipikirannya.
Hamzah bergegas ke kamar, menyodok-nyodok celengan yang ia simpan di bawah kolong tempat tidur. Setelah ketemu, ia bobol celengan tersebut. Jumlah tabungannya Rp 12.500. Ia kemudian pamit pada mamanya untuk pergi sebentar.
Keluar dari halaman rumah, Hamzah menyeberangi jalan raya. Berlari masuk ke sebuah bank yang tak jauh dari rumahnya.
“Tante, aku mau ikut nyumbang buat korban banjir di Jakarta,” ujar Hamzah di depan kasir. Ia serahkan seluruh tabungannya serta alamat pengiriman uang.
“Adik, kalau mau transfer ada biayanya. Lima ribu rupiah,” kata kasir menjelaskan.
“Nggak bisa semuanya Tante?” tanya Hamzah.
“Nggak, cuma bisa ditransfer Rp 7.500,” jawab kasir.
“Ya udah deh, Tante, kirimin aja. Makasih Tante,” ujar Hamzah meninggalkan bank.
Syafi’i mendengarkan kisah Hamzah dari kasir bank lokal tersebut dengan takjub. Ia ingin berbicara langsung dengan Hamzah, sang donatur cilik berjiwa sosial. Dari bank tersebut, Syafi’i mendapatkan nomor telepon rumah Hamzah.
Syafi’i memutar nomor telepon yang dicatatnya.
“Tutttttt......tutttttt”. Dalam dua kali nada panjang, telepon itu diangkat oleh seseorang di rumah Hamzah. “Assalamualaikum. Saya Syafi’i dari bank XX Jakarta,” Syafi’i memperkenalkan diri. “Bank kami menerima donasi untuk korban banjir Jakarta sebesar Rp 7500 atas nama Hamzah. Bisa bicara dengan Hamzah?”
“Bapak tidak bisa bertemu Hamzah,” suara serak bercampur tangis menjawab. Saat bersamaan, lelaki penerima telepon itu, ayah Hamzah, sedang membopong mayat anaknya yang bersimbah darah untuk dimandikan. Hamzah ditabrak saat melintasi jalan raya menuju rumahnya, sesaat setelah keluar dari bank.
Syafi’i mendengarkan semuanya dengan pilu. Tujuh ribu lima ratus rupiah bukanlah hitungan matematis yang menunjukkan besar atau kecilnya jumlah uang. Jumlah itu mengajarkan empati seorang anak kecil terhadap orang lain yang ditimpa musibah. Menggugah dan mengilik hati putihnya untuk berbuat sesuatu tanpa peduli ukuran besar atau kecil. Yang terpenting membantu dengan ikhlas.
Tujuh ribu lima ratus rupiah membawa Hamzah bertemu langsung dengan Khaliq-nya.
*Cerita nyata ini dikisahkan oleh seorang guru saya

10 Komentar:

qq December 19, 2008 at 6:38 PM  

wuahh
terharu bacanya....

manusia biasa December 19, 2008 at 7:20 PM  

sedih banget tragisss.....

hikmah yang manusia biasa dapat petik jangan menilai pemberian seseorang hanya dari besar kecilnya tapi dari niatnya.....

semoga anak kecil ini diterima disisi Tuhan. Amin

Kieran Terrence December 19, 2008 at 10:21 PM  

saya nggak kuat...

mau nangis,...

eh,nggak tau ding...

biasa ae...

bingung2...

kumemikirkan...

Allam December 19, 2008 at 10:50 PM  

Wah mesakke tenan

Turut berduka cita atas syahidnya Hamzah

Riema Ziezie December 20, 2008 at 12:01 AM  

subhanallah Hamzah boleh muda usianya dan boleh kecil fisiknya tapi hatinya luar biasa mulia ... bisakah kita nanti jadi orang tua untuk anak2 yg sholeh seperti ini?

Luthfi December 20, 2008 at 3:24 AM  

Subhanallah. Cerita yang hebat.
Hamzah wajib di tiru.
Ini kisah nyata bukan y?

. gadis kelabu . December 20, 2008 at 4:10 AM  

subhanallah .
rasanya air mata gag bisa di tahan lagi setelah selesai membaca cerita ini .
banyak hikmah yg bisa dipetik dari sini .

[awalnya aku pikir malah cerita ini tentang si pelit, ato dana besar yg terpotong-potong(korupsi, red) .hhe .ternyata ..subhanallah ]

burhanshadiq December 21, 2008 at 11:31 PM  

semoga kita bisa lebih tergugah untuk berinfak ya mas...

Fata Hanifa :) January 3, 2009 at 4:39 AM  

Hueeeeee.... subhanaullah!!! Ade sampai nangis mas ngebacanya! Huhuu~ penuh hikmah tp tragis. Menggelitik nurani kita untuk tergerak membantu sesama. Jika Hamzah kecil yg mati syahid itu bisa, kenapa kita tidak??

Mampir Ngombe January 31, 2009 at 12:36 AM  

Subhanalloh, renungan bagi kita yang mmpunyai rizqi, untuk lebih banyak bersodaqoh...

  © Blogger template Newspaper III by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP